oleh

Acara “Ngopi itu Hak Asasi” Akan Jadi Agenda Tahunan

-Berita-476 views
Media Sosial

MAKASSAR–Persoalan Hak Asasi Manusia (HAM) tak hanya berkaitan dengan isu-isu politik, ekonomi dan hukum tapi juga kerja-kerja kebudayaan. Karena itu, aktivitas berkesenian perlu dilindungi dan para seniman diberi ruang untuk berekspresi. Seperti yang dilakukan sejumlah seniman, penyair, pegiat HAM dan akademisi di Etika Studio, Selasa, 10 Desember 2019.

“Saya mengapresiasi teman-teman di Etika Studio ini yang memperingati Hari HAM Sedunia dengan cara yang kreatif,” kata Dr Muhammad Faisal MRa akademisi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.

Rusdin Tompo, yang malam itu menjadi pemandu acara “Ngopi itu Hak Asasi”, menjelaskan bahwa ide acara ini sederhana dan dipersiapkan sangat singkat, tak lebih dari 10 hari. Para inisiator, Rusdin Tompo, AH Rimba, dan Ivan, hendak menghadirkan kegiatan kampanye publik bertema HAM dengan cara yang menghibur dan asyik. Mereka meyakini, nilai-nilai HAM yang universal akan menjadi perekat gelaran kegiatan ini.

“Ini merupakan kerja jaringan, yang bahasa kerennya networking, tapi gampangnya saya sebut teman ajak teman,” kisah Rusdin mengawali acara “Ngopi itu Hak Asasi”. Pria yang belakangan menjalani profesi sebagai penulis itu kemudian membacakan puisi Wiji Thukul sebagai pembuka acara.

Berbarengan dengan itu, di sudut lain, tiga orang seniman mulai memainkan kuasnya di atas kanvas seukuran 1×1 meter. Ketiga seniman tersebut, yakni AH. Rimba dari Rumah Seni Kasumba, Jenri Pasassan, dan Faisal Syarif. Rimba melukis aktivis HAM Munir dengan judul “Munir Tidak Mati”, Jenri Pasassan membuat lukisan dengan judul “Fight for Living”, dan Faisal Syarif melukis “Kopi Ngebatin”.

Di panggung “Hak Asasi Harga Mati”, setelah Rusdin membacakan puisi, ia secara bergantian mengundang para penyair, dan penyuka puisi membacakan puisi-puisi yang bernuansa kemanusiaan. Budi Prapto, yang dikenal sebagai birokrat-seniman, tampil membacakan puisi-puisi Wiji Tukhul, penyair yang hingga kini masih hilang. Sementara Yudhistira Sukatanya membacakan puisi berkaitan dengan peringatan Hari Korban 40.000 Jiwa. Setelah itu, ada sejumlah

Baca Juga:  Presiden Jokowi: Ekonomi Syariah Motor Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Maysir Yulanwar dari komunitas Makkareso, Asis Nojeng, Faisa Aljaedy, dan Aliul Abdullah yang merupakan beberapa seniman peserta Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS). Ada juga sejumlah mahasiswa yang tampil dengan puisi-puisinya. Acara ini kian semarak dengan hadirnya grup musik Kawan Pencerita yang membawakan empat lagu di antaranya “Keluar Rumah” dan “-17”.

Pada kesempatan itu, Dr Ramsiah Tasruddin, dosen salah satu perguruan tinggi di Kabupaten Gowa, yang sementara menjalani proses hukum terkait UU ITE juga hadir memberikan testimoninya. Ramsiah yang selama ini mendapat pendampingan dari Komite perlindungan jurnalis dan kebebasan berekspresi ( KPJKB) dan LBH Makassar, mengaku banyak dukungan yang ia peroleh dari berbagai kalangan.

“Hikmah yang saya rasakan adalah saya menemukan teman dan keluarga baru, setelah saya ditersangkakan,” kata Ramsiah.

Dukungan yang membuat Ramsiah semakin kuat terutama datang dari keluarganya. Dia bercerita, hampir setiap Aksi Kamisan yang diadakan di depan Monumen Mandala, suaminya hadir memberikan support. Nilai-nilai HAM yang universal memang mampu jadi perekat berbagai elemen masyarakat sipil.

Acara “Ngopi Itu Hak Asasi” merupakan kolaborasi dari Komunitas Puisi (KoPi) Makassar, Rumah Seni Kasumba, Etika Studio bekerjasama dengan BaKTI dan Koalisi Stop Perkawinan Anak Sulsel. Juga mendapat dukungan dari MAMPU (Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan). Acara ini diagendakan akan menjadi kegiatan tahunan.

Yudhistira Sukatanya, yang merupakan Ketua Harian Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (LAPAKKS) mengharapkan kegiatan ini berlanjut dengan mengkadirkan para pekerja seni lainnya.

Tim: barrupos.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed