oleh

Dosen UMPAR Muhammad Fadli Alimuddin asal Mallusetasi bawakan Kajian Islam di Sidrap

-Berita-1.746 views
Media Sosial

Barru Pos-Pengurus Muhammadiyah cabang Maritengae Kabupaten Sidrap. menggelar acara rutinitas setiap subuh ahad ada kajian Islam, bekerja sama dengan Civitas kampus STIKES Muhammadiyah Sidrap dan semua Masjid binaan Muhammadiyah se-Kabupaten Sidrap.

Ustadz Muhammad Fadli adalah Muballig asal Palanro, Kabupaten Barru menjadi Pembaw materi kajian Islam di Masjid Fastabiqul khairat Pangkajene Sidrap.

Muhammad Fadli salahsatu Dosen LB UMPAR menyampaikan materi kajian subuh ahad dengan tema “FITRAH AWAL MANUSIA DALAM KONTEKS MANUSIA BER-SYAHADAH”, beliau juga mengutarakan apa yang dimaksdu fitrah manusia! Dan beliau juga mencoba untuk mengkaji 4 kata dalam al qur’an yang berbeda teks tetapi memiliki konteks yang sama makna dan artikilasinya, semisal 1. Kata “Ra’a” berarti menyaksiakan, dalam konteks melalui mata kepala, ini juga belum dikatakan syahadah, 2. Kata “Nadhara” berarti menyaksikan, dalam konteks menyaksikan segala sesuatunya menggunakan akal pikiran, 3. Kata “Bashara” berarti mrnyaksikan dalam konteks menyaksikan segala sesuatu dengan menggunakan pendekatan hati atau keyakinan, sementara banyak diantara kaum muslimin sebenarnya mengaku bersyahadah tetapi belum sampai pada level syahadah yang sesungguhnya.

Dalam kajian beliau adalah fitrah adalah menggunakan seluruh potensi yang ada pada diri setiap manusia untuk sujud dan rukuk dihadapan Allah swt, sebab tidak sedikit manusia mengaku beriman kepada Allah swt tetapi hatinya tidak beriman, jiwanya tidak beriman, dan pikirannya tidak beriman.

Maka hakikat syahadah dalam konteks ini adalah antara niat, pikiran dan perbuatan itu selaras untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt dan senantiasa menjauhi segala larangannya.

Makanya salahsatu contoh kongkret dari subtansi syahadah, Imam Ali Bin Abi Thalib, saat terkena panah punggungnya, beliau berpesan agar panah tersebut dicabut, namun Imam Ali merasakan sakit, lalu beliau berpesan kembali kepada sahabat-sahabatnya agar saat beliau shalat nantinya maka hendaklah panah itu dicabut dari punggungnya, setelah shalat, Ali Bin Abi Thalib berkata, mengapa kalian belum mencabut panah itu, lalu sahabat menjawab, kerahuilah wahai sahabat Nabi saw, bahwasanya panah yang ada di punggungmu itu sudh kami cabut dan kerahuilah engkau adalah manusia terhormat karena keikhladanmu dalam membngun agama nya Allah swt.

Baca Juga:  Presiden dan Panglima TNI Tinjau Helikopter Caracal

“Dalama salahsatu Haditd shahih”
(Kullu mauludin yuuladu alal fithrah fa abawaihi an yuhaddinanihi, au anyunasshiranihi, au an jumazinahi) artinya setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah/ suci maka kedua orng tuanyalah yang menjadikn ia yahudi, naseani dan majuzi) dalam konteks ini tidak ada lanjutan teks hadits ini menyatakan maka kedua orrtnya dan lingkungan nya lah menjadikan ia muslim.

Lalu siapa yanf menjadikan kita muslim, jawabannya adalah sebelum manusia lahir dimuka bumi ini maka ada perjanjian sebelumnya ialah alam alastu (alastu birabbikum) lalu manusia berkata (na’am qaalu syahidna). Maka kesimpulannya adalah manusia adalah mahluk yang memiliki cap stempel beriman kepada Allah swt.

Penulis (Muhammad Fadli)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed