oleh

Jejak Sang Genarasi Pembaharu

-Berita-1.677 views
Media Sosial
Barru Pos-Muhammad Fadli Alimuddin, lahir parepare 27 juli 1988 merupakan putra kedua dari pasangan bapak Alimuddin, S. Pd dan Hj. Rusmiati Latif, S. Pd keduanya adalah seorang guru SD. Muhammad Fadli dibesarkan dalam lingkungan pendidik sehingga corak pemikiran beliau selalu tercipta inovasi dan kreasi dalam meninterpretasi sebuah dinamika sosial khususnya pada ranah Pendidikan.

Fadli, sapaan beliau, telah mengawali rekam jejak pencarian ilmunya di SD inpres Kampung Baru (1995-2001), Madrasah I’dadiyah DDI mangkoso (2001-2002), MTs Putra DDI Mangkoso (2002-2005), MA putra DDI mangkoso (2005-2008), STAI DDI mangkoso (2008-2013), UMPAR (2013-2015), UMPAR (2016-sekarang). Beliau adalah seorang Mahasiswa Program Doktoral Universitas Muhammadiyah Parepare, saat ini beluau menyusun disertasinya dengan judul “REKONSTRUKSI DAN REIMPLEMENTASI MANAJEMEN MDA DALAM MEMBANGUN KERANGKA PENDIDIKN IDEAL MENUJU MASYARAKAT MULTIKULTURAL.

Beliua telah memiliki beberapa pengalaman riset penelitian di beberapa negara diantaranya tahun 2014 (Malaysia, Thailand dan Singapura) dan tahun 2018 (Pilipina).

Beliau sangat intens dalam menata konsep ideal dalam memainkn peran aktif ditengah-tengah masyarakat heterogen agar dapat menciptakan nuansa kehidupan yang multikulutural. Satu kebanggaan bagi masyarakat Mallusetasi khususnya dan Kab. Barru pada umumnya sebab ada salahsatu putra terbaiknya telah berhasil membawakan seminar internasional fi Kota Manila Pilipina 2018 silam.

Beliau menulis manuskrip kajian studi tentang pendidikan islam. Beliau berharap akan ada perubahan stigma positif dan asusmsi positifisme dalam menelaah sebuah arah dinamika pendidikan islm. Pemuda yang dibesarkan di daerah Palanro ini, mencermati adany degradasi intlektual di wilayahnya sebab ada faktor penyebab diantaranya adalah adanya monotonisme ideologi para tokoh masyarakat dan stagnasi pemikiran di kalangan kaum intlektulis.

Minimnya ruang bagi para generasi pelanjut sehingga dalam realitasnya terjadi kesenjangan sosialisme dan kesenjangan individu, efeknya adalah kurangnya kemajuan peradaban dan roda percaturan intlektual di masa kini, para generasi kita kurang percaya diri dengan potensi dan kemampuan ilntlegensi nya, namun ada harapan kelak akan ada efek positif yang terbias dari satu konsep yang dibngun oleh sang generasi muda asal Mallusetasi (Muhammad Fadli Alimuddin).

Baca Juga:  Cegah Penyebaran Virus Covid-19, Polres Pangkep Lakukan ini

Konsepsi pemikiran tak selamanya berjalan mulus dan aman tentu akan mengalami pasang surut spirit, tumpan tinfih kepentingan personal atau kelompok, dan tantangan teknologi informasi akan menjadi bahan evaluasi bagi kaum pembaharu saat ini.

Saat ini kita hanya bisa berharap pada generasi pelanjut kedepannya akan ada potret perubahan yang cukup signifikan agar sejatinya kita semua dapat menyaksikan kehifuoan dinamis yang sesungguhnya, setelah Muhammad Fadli melakukan sebuah gerakan pembaharuan di Mallusetasi (Palanro) yakni dengan cara mendirikan Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) dibawah naungan Ormas Islam nahdatul Ulama (NU) maka ada potret yang berbeda sebelumnya ditengah derasnya arus globalisasi saat ini, dulunya peserta didik yang duduk dibangku sekolah dasar (SD) mereka apatis dan cuek bahkan cenderung tidak mau tau tentang ajaran agama islam subtansial, namun setelah kehadiran mdarasah Diniyah Awaliyah (MDA) maka potret itu berubah menjadi harapan besar setelah outputnya jelas nyata dan cukup menanmpakkan kulitas yang sesungguhnya.

Susunan cara pandang masyarakat heterogen telah intens semangat dalam membangun kerangka bersama dalam mengsukseskan keberagamaan dengan benar. Para santri-santriwati yang didik di MDA tersebut telah mampu membius dan menghipnotis khalayak ummat dan memprioritaskan sebuah kultur beragama dengan benar. Olehkarena itu sosok Muhmmad Fadli sangat penting demi merespon zaman yang berkembang pesat dan maju cukup cepat perubahannya.

Beliau telah membawa harum nama kab. Barru di level nasional sosok pemuda yang berani menciptakan nuansa berbeda namun positif ialah saatnya generasi mesti diberia ruang publik agar dapat berkreasi sesuai tingkat kognitifnya dan spritualnya.

Penulis : Muhammad Fadli Alimuddin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed