oleh

Ketika Sangkakala Arus Kemerdekaan Ditiup

-Berita-1.566 views
Media Sosial

Barru Pos — Satu-satunya sejarah yang bisa mengaktifkan semangat perjuangan dan pembangunan adalah sejarah perlawanan. Indonesia pernah berlawanan dengan berbagai Negara kolonialis dan imperialis hingga menuai kemerdekaan. Dan ternyata waktu Indonesia Bagian Kemerdekaan (WBK) sudah menunjukkan pukul 74, detakan waktu berukuran tahun menandakan usia Indonesia sudah seharusnya sejahtera dengan segala kekayaan perut bumi dan airnya._
-Al Mukhollis Siagian-

Kemerdekaan merupakan tonggak dari pelbagai peristiwa dalam sejarah suatu Negara yang pernah mengalami penjajahan dari Negara imperialis maupun kolonialis, begitu juga halnya dengan Indonesia yang pernah dijajah berabad-abad lamanya. Tidak bisa dibayangkan, kondisi hidup dalam pembelengguan, semua aktivitas diatur paksa, hanya segelintir orang yang bisa merasakan pendidikan dan kesehatan, bahkan nyawa seseorang maupun lebih menjadi kehendak dari para penjajah, dan pastinya tidak satupun bisa merasakan kesejahteraan. Sebab adanya keterikatan dan kehendak paksa oleh bangsa penjajah untuk meraup keuntungan dari kekayaan sumber daya alam dan keindahan Indonesia.

Atas dasar kondisi penjajahan yang dialami oleh Bangsa Indonesia tersebut, semangat perjuangan bermunculan untuk melakukan perlawanan, menyisir imperialis dan kolonialis dari tanah air ditengah perang Asia-Pasifik. Awalnya perlawanan dilakukan dari daerah yang dipimpin oleh para penguasa daerah, gerakan gerilya, hingga tiba pada satu masa melangsungkan perjuangan dengan semangat kebersamaan dalam menumpaskan dominasi penjajah tersebut. Masa itu adalah momentum peniupan sangkakala arus kemerdekaan (proklamasi) oleh Soekarno-Hatta sebagai tokoh yang didesak oleh kalangan muda untuk mewakilkan bangsa Indonesia pada Jum’at, 17 Agustus 1945 dalam mengumandangkan: Indonesia Merdeka!

Meski ada yang menyatakan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah sebuah hadiah yang dipetik saat berada pada kondisi kekosongan penjajah (vakum of power) dan diperkuat bahwa Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) akan memperoleh kemerdekaan bangsa pada tanggal 24 Agustus 1945. Namun perlu digaris bawahi, kemerdekaan belum tentu diperoleh sepenuhnya pada tanggal 24 Agustus 1945 jikalau keadaan tersebut tidak segera diperjuangkan oleh tokoh muda revolusioner (termasuk anti Jepang maupun anti penjajahan) seperti Syahrir, Wikana, Syukarni, Chirul Saleh dan lainnya.
Maka perlu dipertegas juga bahwa kemerdekaan Indonesia adalah mutlak hasil perjuangan bangsa, banyak perang yang telah dilakukan, pengorbanan yang diabdikan, dan lingkaran pilu penuh tumpahan darah para pejuang (pahlawan) lainnya sebagai hasil kebersamaan dalam membangun kekuatan meyisir keterikatan pada Negara lain.

Baca Juga:  Bupati Suardi Saleh Pimpin Upacara Peringatan Sumpah Pemuda Ke- 91

Disisi lain, perjuangan memerdekakan bangsa bukanlah hanya untuk lepas dari belengguan para kolonialis dan imperialis semata. Melainkan untuk merdeka seutuhnya tanpa adanya ikatan/ketergantungan pada Negara lain, berdaulat dan mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia. Sebab dengan arus kemerdekaan yang ditempuh adalah cara mengelola kekayaan perut bumi dan isi kandungan air serta keindahan Indonesia dengan maksimal diperuntukkan menjadikan masyarakat sejahtera dan Negara yang maju dan makmur.

*74 Tahun Waktu Indonesia Bagian Kemerdekaan: Merdekalah!*

Pada usia Indonesia yang ke 74 tahun, tidak sedikit problematika yang terjadi di bumi pertiwi untuk diselesaikan menuju Indonesia unggul, seperti kemerosotan daya politik disaat pilpres beberapa bulan lalu atau perbincangan para elit politik akhir-akhir ini tentang calon presiden 2024 (hasil pilpres 2019 pun belum dilantik), ketergantungan Indonesia pada bangsa asing semakin meningkat ditandai dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang melakukan impor bahan komoditas pangan (beras, gandum, jagung, garam, dan sebagainya), impor tenaga kerja asing ditengah banyaknya anak bangsa pengangguran, hutang luar negeri mencapai lebih dari 5 triliun, rencana impor rektor asing untuk memimpin perkembangan lima universitas dan pemindahan Ibukota RI ke Kalimantan yang pastinya membutuhkan budget tidak sedikit.

Belum lagi permasalahan Papua yang semakin agresif melangsungkan ambisinya untuk merdeka/pisah dari Indonesia, kondisi bangsa yang sedang diselimuti bonus demografi dan kontestasi percaturan global kian memanas, baik itu dalam hal perkembangan teknologi, perang dagang, kekayaan intelektual, energi dan sebagainya.

Tentu keadaan ini menjadi dilematis untuk Indonesia melanjutkan langkahnya, jika salah langkah berpotensi jatuh pada curamnya jurang global. Sebab semuanya sudah menjadi prioritas untuk diselesaikan dan memiliki keterkaitan erat, namun satu hal yang pasti untuk merdeka seutuhnya adalah lepas dari ketergantungan pada Negara asing, termasuk hutang maupun rayuan pembangunan lainnya.

Baca Juga:  Pilkada 2020, KPU Barru Akan Siapkan 449 Petugas PPDP di Lapangan

Meskipun penjajahan terhadap Indonesia sudah terlepas selama 74 tahun, namun bukan berarti Indonesia benar-benar lepas dari penjajahan Negara asing. Sebab dasar dari penjajahan adalah keuntungan untuk penjajah dan pembelengguan untuk yang dijajah.

Perlu disadari pada dewasa ini, penjajahan dikemas dengan model baru melalui polarisasi kerangka berfikir dalam membangun bangsa (ideologi) seperti perang dingin yang pernah terjadi dalam garis sejarah dunia. Salah satu model teknis penjajahan itu adalah memberikan bantuan pada Negara-negara berkembang untuk melakukan pembangunan, baik itu berupa pemberian pinjaman maupun tenaga ahli dari Negara tersebut (hutang luar negeri, impor tenaga kerja asing, impor rektor asing, pembangunan proyek One Belt One Road dan sebagainya). Meskipun logikanya untuk menggencarkan pembangunan/modernisasi, maka lihat pulalah selama berabad-abad Indonesia di cengkeram imperialis dan kolonialis selalu gencar melakukan pembangunan.
Ternyata Indonesia sedang berada pada cengkeraman jajahan (neoliberalism), semoga tidak terulang kembali untuk menjual aset Negara dalam membayar hutang (indosat), merendahkan bangsa di depan IMF, terlebih bernasib sial seperti Sri Lanka yang di invasi dengan model baru oleh Negara pemberi bantuan pembangunan.

Apabila merujuk dari pemikiran Bung Karno tentang sebuah Negara yang merdeka harus memiliki tiga platform kehidupan, yaitu berkepribadian dalam budaya, berdikari secara ekonomi, dan berdaulat melalui politik. Implikasi dari tiga platform ini adalah membangun bangsa dengan kuat dan mewujudkan kesejahteraan pada sendi-sendi Negara dalam melangsungkan pergaulan internasional dan adaptif terhadap keadaan global. Namun lihatlah ketiga platform tersebut, adakah Indonesia mencapainya, salah satu saja? Ternyata jawabannya tidak, dan jauh panggang dari api adalah istilah yang cocok untuk mewakilkan potret realitanya.
Untuk itu, di usia Indonesia ke-74 tahun harus dijadikan momentum yang berperan sebagai alarm mengingatkan kembali/membangun tujuan Negara dan mencapainya dengan tepat dan cepat, mengingat Indonesia memiliki apa yang dimiliki dan tidak dimiliki oleh Negara-negara lain.
Menjadikan Indonesia sebagai negara yang merdeka seutuhnya bukanlah hal sulit dan bukan pula hal utopis, kita hanya butuh pembangunan tiga serangkai, yaitu masyarakat, pemerintah dan swasta dalam mengelola serta mengembangkan kekayaan Indonesia, intinya adalah berkolaborasi dan menjalin harmoni ketiga lapisan Negara tersebut untuk lebih baik lagi. Bukankah Soekarno juga pernah menyatakan apabila Pancasila di kerucutkan menjadi Ekasila, maka isinya adalah “gotongroyong”. Dan bukankah kemerdekaan dari penjajahan fisik oleh Negara-negara imperialis dan kolonialis itu juga berkat perjuangan dan pembangunan bersama pula, maka tiuplah sangkakala arus merdeka Indonesia di usia 74 ini untuk bernar-benar berdaulat, unggul dan maju.

Baca Juga:  Presiden Jokowi Berbelasungkawa atas Meninggalnya Dua Mahasiswa di Kendari

Sumber Penulis: Al Mukhollis Siagian sebagai Presiden Wadah Pejuang Penegak Solusi Politik

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed