Home / opini

Sabtu, 2 Mei 2020 - 12:00 WIB

OPINI : Kolaborasi Antara Adat Istiadat dan Agama

OPINI – Indonesia adalah negara majemuk negara yang memiliki beragam ciri khas, agama, tradisi, dan kebudayaan. Kebudayaan adalah perwujudan dari sebuah renungan, kerja keras dan kearifan masyarakat dalam mengarungi dunianya.

Tradisi yang menjadi kebudayaan yang turun temurun masyarakat yang ada di Suku Bugis Makassar khususnya di Kabupaten Barru, yaitu tradisi ma’baca baca, ma’baca baca adalah sebuah ritual yang dianggap sakral bagi sebagian masyarakat Kabupaten Barru, masyarakat Bugis melaksanakan ma’baca baca ini ketika ada khitanan, pengantin, naik rumah bahkan memasuki bulan suci ramdhan dan menjelang hari raya. Tradisi kebudayaan ma’baca baca ini dilakukan oleh seorang yang dianggap sesepuh, orang yang dituakan, orang yang dianggap paham agama, dan baik hubungannya dengan masyarakat.

Dalam ritual Mabbaca baca ini, pihak yang didoakan biasanya menyiapkan sajian makanan yang memiliki filosofi luas, dengan menggunakan nampang/baki di depan orang sesepuh itu dengan berbagai macam lauk pauk dan tak lupa beras ketan yang orang bugis katakan adalah sokko dan tidak lupa menyiapkan tungku kecil yang berisikan bara api dan kemenyan atau orang bugis menyebutnya dupa.

Nantinya bara api tersebut akan ditaburi bubuk berwarna merah sehingga menghasilkan asap yang berbau menyengat. Disitulah sesepuh memulai Ma’baca-baca.
yang berisikan salawat kepada nabi dan membaca ayat ayat al qur’an, orang bugis melaksanakan ritual ini adalah suatu bentuk dari rasa syukur yang kemudian di implementasikan dengan aksi nyata, disamping itu juga ritual ini bertujuan unyuk memperareat tali silaturahin dengan para tetangga, ritual ini sangat sulit dihentikan karena berasal dari nenek moyang mereka yang dianggap keramat, Dalam pelaksanaanya, mereka hanya merubah doa-doa yang sebelumnya bercorak animisme (kepercayaan nenek moyang) dan bernuansa kepercayaan lokal diganti dengan doa yang sesuai tuntunan Al-quran dan Hadits, Doa-doa tolak bala, kalimat-kalimat kesyukuran, dan doa untuk orang mati versi sebelumnya diubah dengan versi yang bernuansa Islam. sehingga menurut orang bugis itu sendiri yang dilakukan ini bukanlah suatu kesyirikan.

Baca Juga  Presiden Dan Wakil Presiden Gagal Dilantik?

Akan tetapi jangan sampai sebuah kepercayaan membawa pada kesyirikan terhadap Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh
ia telah berbuat dosa yang besar.” (q.s An nisa : 48)

Baca Juga  Reformasi Kebijakan Publik (Perspektif Makro dan Mikro

Dari ayat diatas dapat disimpulkan bahwa ayat tersebut membawakan hikmah yaitu menyeruh kepada manusia untuk membedakan yang haq dan yang bathil, sehingga dalam pelaksanaan ritual ini
budaya tradisi Bugis dengan budaya Islam dikolaborasikan menjadi satu bagian yang utuh yang tidak bisa dipisahkan dalam adat Bugis. Dalam tradisi ma’baca baca ini terdapat unsur kepercayaan kepada Tuhan.
Pada proses pelaksanaannya tradisi Mabbaca maca masih terdapat praktik-praktik budaya pra-Islam, yaitu budaya lokal masyarakat yang telah disandingkan dengan budaya Islam. karena hal tersebut disebabkan Islam masuk, tidak serta-merta menghapus budaya lokal masyarakat pada umumya yang sudah menjadi tradisi mereka, Namun islam menyesuaikan dengan keadaan masyarakat tersebut sehingga budaya lokal ke dalam budaya Islam terdapat penyesuaian dalam pelaksanaannya.

Penulis : Fatma Mangkawani

Share :

Baca Juga

opini

Penguatan Nasionalisme dan Islam Nusantara

opini

Melihat Suara Stake Holder Golkar Jelang Munas Partai Golkar

opini

Menuju Dua periode, Jalan Suardi Saleh tidak Mulus

opini

PNS Bicara Politik

opini

OPINI: Apa Kabar Omnibus Law ?

opini

Alokasi Dana Desa Diduga Ditilap

opini

Sekitar 20 Orang Aliansi Pemuda Bersatu, Kabupaten Barru Gelar Aksi

opini

Presiden Dan Wakil Presiden Gagal Dilantik?