oleh

Korelasi Nilai Kebudayaan Suku Bugis Terhadap Respon Pemikiran Ulama Bugis

-Berita-431 views
Media Sosial

BARRU POS–Masyarakat Bugis, sejak dahulu dikenal memiliki sistem kehidupan dan tata nilai yang mereka pedomani dalam kehidupan berumah tangga dan bermasyarakat.

Nilai-nilai utama kebudayaan Bugis itu meliputi kejujuran (lempu’), kecendekiaan (amaccang), kepatutan (assitinajang), keteguhan (agettengeng), usaha (reso), prinsip malu (siri’).

Nilai nilai tersebut diwariskan oleh leluhur Bugis melalui Papangngaja (nasihat) dan Paseng (amanat). Keberadaan nilai-nilai tersebut dapat pula ditemukan sebagiannya pada penjelasan ulama Bugis dalam Tafsir Berbahasa Bugis Karya MUI Sulsel.

Penggalian terhadap nilai-nilai kearifan lokal dalam penjelasannya dipahami baik secara eksplisit maupun secara implisit. Hal ini dapat dimaklumi, karena penulisan tafsir tersebut pada dasarnya bertujuan untuk mendekatkan dan memberi pemahaman kepada masyarakat Bugis terhadap ajaran Islam khususnya mengenai isu-isu gender.

Terdapat beberapa isu gender yang seringkali menjadi perdebatan oleh beberapa kalangan. Persoalan yang paling sering muncul sebagai bias gender adalah persoalan hak kepemimpinan perempuan dalam ranah publik, masalah ‘iddah, masalah kewarisan, dan lain-lain.

Masalah hak kepemimpinan perempuan menjadi bias karena motif politik (kekuasaan), sedangkan masalah ‘iddah seringkali menjadi bias karena konstruksi budaya, dan hal tersebut mempunyai akar sejarah dari budaya Arab pra Islam.

Adapun masalah kewarisan seringkali terjadi karena motif ekonomi dan budaya. Bias-bias itu terjadi tidak berdiri sendiri, melainkan karena adanya beberapa teks agama (ayat dan hadits) yang secara tekstual mendukungnya. Akan tetapi sebagian ulama mendekati teks teks tersebut dengan pendekatan yang berbeda, yaitu mereka melihat faktor eksternal yang membentuk teks, khususnya latar belakang (asbab an-nuzul dan asbab al wurud). Selanjutnya, mereka mencoba menangkap pesan ideal moral teks-teks tersebut.

Adapun tulisan ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran ulama Bugis mengenai isu-isu gender yang meliputi hak kepemimpinan perempuan, ‘iddah, dan kewarisan serta relevansinya dengan nilai-nilai budaya Bugis di dalam tafsir berbahasa Bugis karya MUI Sulsel.
yang sangat kental.

Baca Juga:  Wakil Bupati Barru Kosong? Ketua PKS Barru Rekomendasi Partai Segera Menyusul

Tata aturan hidup masyarakat Bugis pra Islam, baik yang berkaitan dengan kepercayaan maupun pemerintahan dan kemasyarakatan yang disebut Pangngaderreng (Bugis), Pangngadakkang (Makassar), Pangngadarang (Luwu), Aluk To Dolo (Toraja), dan Ada’ (Mandar).

Sebelum datangnya Islam, mereka telah meyakini Dewata Seuwae (dewa yang tunggal) (Tim Penulis, 2004: 20), Patotoe (dewa yang menentukan nasib), bagi Bugis dan Luwu. Makassar menyebut Turi A’rana (kehendak yang tinggi), Mandar menyebut Puang Mesa (yang Maha Menghendaki), Toraja Puang Matua (Tuhan yang Maha Mulia).

Disamping itu, mereka juga mempercayai adanya Dewa di Gunung Latimojong yang dikenal dengan Dewata Matanrue. Dewa ini kawin dengan E Nyi’li’timo’ kemudian melahirkan Patotoe kawin dengan Palingo’ dan melahirkan Batara Guru. Batara Guru ini dipercayai oleh sebagian masyarakat sebagai dewa penjelajah di seluruh kawasan Asia yang bermarkas di puncak Himalaya. Sekira satu abad sebelum Masehi, datanglah Batara Guru di Cerekang Malili dengan membawa empat kasta yaitu: kasta Puang, kasta Pampawa Opu, kasta Attana Lang, dan kasta orang kebanyakan.

Diantara kepercayaan masyarakat Bugis sebelum datangnya Islam yaitu kepercayaan Aluk To Dolo oleh orang Toraja, yaitu kepercayaan adanya sesuatu pengatur semesta alam, Maha Pencipta yang kemudian disebut Puang Matua.

Ditemukan pula pada beberapa daerah di Sulawesi Selatan seperti di Tana Toa Kajang Bulukumba, di Onto yang terdapat di lereng gunung Bantaeng dan desa-desa pegunungan terpencil di Camba dan Barru.

Kepercayaan mereka itu dikenal oleh masyarakat luar dengan kepercayaan agama “Patuntung”. Agama Patuntung mempercayai adanya sesuatu yang Maha Kuasa, Maha Tunggal dengan berbagai istilah atau nama, misalnya Turia” a’ra’na (yang berkehendak).

Kepercayaan serupa di Sidenreng Rappang, yaitu suatu kepercayaan yang disebut Towani Tolotang, yaitu suatu kepercayaan yang meyakini adanya kekuasaan alam yang tinggi yang mereka namakan “To Palanroe” (yang mencipta).

Baca Juga:  VIDEO: Satgas TMMD Kodim Mallusetasi Bantu Pemerintah Desa Semprot Rumah Warga

Penulis : MUHAMMAD FADLI ALIMUDDIN
Reporter : Mudaksir Anci

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed