oleh

Makam Raja-Raja Nepo, Bukti Situs Kerajaan Besar Pada Abad Ke-16

-opini-420 views
Media Sosial

Barrupos.com, NEPO adalah salahsatu Desa yang ada di Kabupaten Barru, berada di Wilayah Kecamatan Mallusetasi, pusat pemerintahannya saat ini berada di Dusun Lanrae (Pattanronge) terutama kantor Desa.

WATANG NEPO, adalah tempat dimana Rumah atau istana raja yang dalam bahasa bugis dusebut SAORAJA itu pernah berdiri sebagai pusat kerajaan pada abad ke-16.

Sejaraha telah mencatat bahawasanya, Kerajaan Nepo adalah sebuah kerajaan berdaulat yang berpengaruh penting di Sulawesi Selatan pada masa lampau. Kerajaan ini terbentuk pada parnh kedua abad ke-16, setelah Raja Makassar I Mario Gau Bonto Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng (1546—1565) melakukan perluasan kekuasaan terhadap kerajaan-kerajaan lokal di Sulawesi Selatan. Karena itu kerajaan ini tidak tercatat sebagai salah satu kerajaan di antara kerajaan-kerajaan yang berkembang di pesisir barat jazirah selatan Pulau Sulawesi yang ditaklukan oleh Kerajaan Makassar.
Proses pcmbentukan Kerajaan Nepo dihubungkan dengan tokoh legendaris La Bongo, setelah sebelumnya diperintah oleh Arung Pattapuloe (Raja Empat Puluh). Tokoh ini berperan membentuk Kerajaan Nepo, lepas dari Addatuang Sawitto. Pengungkapan
sejarahnya sangat penting dalam konteks sistem politik tradisional di Sulawesi Selatan.

Makam Kuno Islam Nepo terletak di Desa Nepo. kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Secara historis Nepo tumbuh menjadi sebuah kerajaan unifikasi atas sejumlah wanua-wanua. Akan tetapi dalam perkembangannya Nepo mengalami dialektika politik dengan beberapa kerajaan besar di Sulawesi Selatan seperti; Bone, Suppa’Soppeng, Sidenreng, Gowa dan Luwu.

Dalam naskah lontara disebutkan bahwa unifikasi Nepo tersebut ditandai dengan mengangkat pemimpin pertamanya sebagai raja (arung) bernama Labonggo, putra bangsawan dari kerajaan Suppa’.Dari sumber tertulis maupun secara lisan menceritakan bahwa Nepo dan Kerajaan Tanete pernah menjadi kerajaan yang tangguh di wilayah Mallusetasi, walaupun belum setangguh dengan kerajaan Lima Ajatapparang sebagai kerajaan tetangga yang terletak disebelah utaranya.

Baca Juga:  Presiden Dan Wakil Presiden Gagal Dilantik?

Makam raja-raja Nepo berdasarkan tahun Hijriah sudah berusia sekitar 122 tahun ( 1897 – 2019), dengan ciri makam tersendiri yaitu adanya nisan dipasang pada bagian tengahnya atau pada bagian kepala yang dimakamkan, sehingga nisan tersebut memiliki arti dan kedudukan yang sangat penting. Arti penting dari pemakaian nisan tersebut tidak terlepas dari pengaruh tradisi megaliti

Makam yang mendapat pengaruh megalitik memiliki unsur-unsur tradisi megalitik yang tertuang dalam pahatan dan bangunan sakral, memakai batu alam menyerupai menhir atau bentuk patung yang sederhana. Keadaan tersebut mencerminkan berlangsungnya tradisi megalitik dalam masyarakat saat itu.

Kerajaan Nepo pernah dipimpin oleh Arung Patappuloe (raja empat puluh) merupakan 40 raja yang memerintah secara bersamaan. Setelah arung patappuloe, terdapat 13 raja yangpernah memerintah di kerajaan Nepo, salasatunya yaitu La Bongo yang merupakan putra dari datu Suppa.

Berikut ini silsilah raja-raja Nepo:

Arung Patappuloe / raja empat puluh (40 raja yang memerintah secara bersamaan)
Arung La Bongo
Arung I Timang Ratu
Arung La Makkaraka
Arung La Passampoi
Arung La Pabbiseang
Arung La Ippung
Arung La Solong
Arung Laica
Arung I Messang
Arung I Simatanah
Arung Singkeruka
Arung I Makung
Arung La Calo

La Calo adalah arung Nepo yang terakhir berkuasa sebab pada masa pemerintahannya pengaruh kolonial meluas dan menguat di Sulawesi Selatan, termasuk pula di kerajaan Nepo.

Saat ini, beberapa keturunan para raja-raja Nepo yang menjadi pejabat dibeberapa instansi pemerintahan, baik skala regional, Nasional maupun internasional, diantaranya adalah;

  1. ANDI INA KARTIKA SARI, SH.,MH (Ketua DPRD Sul-Sel) 2019-2024
  2. Dr. H.ANDI ENTONG, M. Si (Ketua STIEM TRI DARMA Makassar)
  3. ANDI ARKHAM PIETHER, S. Sos (Anggota DPRD Kab. Barru)
  4. H. ANDI SYARIFUDDIN, M. Si (Kepala Dinas Pariwisata Kab. Barru)
  5. Dr.H. ANDI FAISAL SAPADA, M. Si (Eks. Wakil Walikota Parepare)
  6. Drs. H. ANDI RANGGONG (Eks. Bupati Sidrap)
  7. H. ANDI IDRIS BAU MANGE’ (Eks. Ketua KONI Kab. Barru)
  8. Hj. ANDI IDA KUTANA, SH.,MH (Eks. Anggota DPRD Sul-Sel)
  9. Hj. ANDI TJAMBOLANG (Eks. Anggota DPRD Sul-Sel)
  10. ANDI YENNI ABU JAROPI, SE (Anggota DPRD Kab. Barru)
  11. Ir. H. ANDI IRWAN HAMID, S. Sos (Bupati Pinrang 2018-2023)
  12. Dr. Hj. ANDI TENRIANINGSIH, M. Si (Akademisi/Dosen)
  13. Hj. ANDI MUKHRAWATI, S. Sos (Eks. Lurah Palanro)
  14. Prof. Dr. H. NURDIN ABDULLAH, M. Agr (Gubernur Sul-Sel)
  15. Drs. H. MUHAMMAD SYAKIR KARIM, M. Si (Eks. Kepala Dinas Kebersihan Kota Parepare)
Baca Juga:  Opini : Mengenang Rumah Tua Bernilai Sejarah di Kampung Baru Palanro Momentum Dirgahayu RI-75

Itulah nama-nama Pejabat yang leluhurnya adalah raja-raja Nepo, sehingga titisan kepemimpinan diwariskan kepada generasi-generasinya, sehingga kita patut menghargai jasa-jasa leluhur mereka yang pernah berjasa dalam sistem pemerintahan Monarki absolut pada abad ke-16 masa itu

Penulis, Muhammad Fadli Alimuddin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed