oleh

Menakar Pembangunan Manusia di Barru

-opini-648 views
Media Sosial

BARRU POS–Badan Pusat Statistik mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Barru naik kelas dari kategori “sedang” menjadi “tinggi” pada periode 2017-2018. IPM Barru mencapai 70,05 pada skala 0-100 dan berada pada posisi kedelapan di Sulsel.

Dilema yang sering dialami oleh pemerintah adalah memilih prioritas antara pembangunan infrastruktur atau manusia. Keduanya merupakan hal yang sama penting dalam membangun sebuah wilayah. Penduduk menjadi penting untuk diberikan perhatian dalam pemenuhan hak dasar di bidang pendidikan, kesehatan, dan taraf kehidupan layak.

Lalu bagaimana dengan pembangunan manusia di Kabupaten Barru selama ini?
Angka indeks pembangunan manusia dapat dijadikan sebagai salah satu indikator untuk melihat capaian pembangunan manusia suatu daerah. Indikator ini digunakan oleh banyak negara di dunia dan dikenalkan pertama kali oleh United Nations Development Programme (UNDP) pada tahun 1990. Hingga kini, metode perhitungan IPM telah banyak mengalami penyempurnaan.

Metode terbaru ditetapkan pada tahun 2011 dengan beberapa perbaikan, diantaranya dengan mengganti indikator angka melek huruf (AMH) menjadi angka harapan lama sekolah (HLS). Selain itu, PDRB perkapita diganti dengan PNB per kapita. Terdapat tiga komponen pembentuk IPM yakni umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak.

Ketiga dimensi tersebut diwakili oleh angka harapan hidup (AHH), harapan lama sekolah (HLS) penduduk usia 15 tahun ke atas, rata-rata lama sekolah (RLS) penduduk usia 25 tahun ke atas, dan pengeluaran per kapita disesuaikan (96 komoditas).

IPM Kabupaten Barru sudah mencapai kategori “tinggi” pada tahun 2018. Jika melihat peringkat, IPM Barru menduduki posisi kedelapan dari 24 kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan. Jika ingin melihat akselesarasi pembangunan manusia, bisa melihat capaian pertumbuhan IPM dari tahun ke tahun. IPM Barru tumbuh cukup stabil setiap tahunnya dan mencapai pertumbuhan tertinggi pada tahun 2013 sebesar 1,44 persen.

Baca Juga:  “Penguatan Nasionalisme Dan Islam Nusantara”

Sedangkan pada tahun 2017 ke tahun 2018 hanya tumbuh di kisaran 0,70 persen dan tumbuh melambat dari periode sebelumnya yang mencapai 0,72 persen.

Selanjutnya dapat kita melihat komponen penyusun angka IPM Barru satu per satu. Untuk dimensi kesehatan, diwakili oleh Angka Harapan Hidup (AHH) yang sudah mencapai 68,60 tahun. Maknanya adalah bayi yang lahir di Barru pada tahun 2018 memiliki harapan hidup hingga 68,60 tahun.

Indikator ini memberikan gambaran tentang derajat hidup suatu wilayah, baik sarana prasarana, akses menuju sarana kesehatan, dan kualitas kesehatan penduduk. Angka harapan hidup yang semakin membaik menunjukkan bahwa pembangunan manusia pada dimensi kesehatan semakin baik setiap tahunnya.

Untuk melihat akselerasinya tetap dengan melihat capaian pertumbuhannya. AHH di Barru terus mengalami kenaikan setiap tahun dengan pertumbuhan sebesar 0,44 persen pada periode 2017-2018. AHH juga tumbuh lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yang hanya tumbuh d kisaran 0,21 persen.

Pada dimensi Pendidikan diwakili oleh dua indikator yakni angka harapan lama sekolah (HLS) dan rata-rata lama sekolah (RLS). HLS anak usia 7 tahun ke atas di Barru mencapai 13, 56 tahun. Artinya, secara rata-rata anak berusia 7 tahun ke atas yang masuk jenjang pendidikan formal pada tahun 2018 memiliki peluang bersekolah selama 13,56 tahun atau setara D1 atau di tahun pertama tingkat perguruan tinggi.

Sedangkan RLS sebesar 7,86 tahun, artinya secara rata-rata penduduk Barru yang berusia 25 tahun ke atas telah menempuh pendidikan selama 7,86 tahun atau setara dengan kelas 2 SMP. Kedua indikator ini menunjukkan kenaikan dari tahun ke tahun. Hal ini didukung oleh keseriusan pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan di sektor pendidikan.

Baca Juga:  PNS Bicara Politik

Salah satunya dengan kucuran anggaran yang cukup tinggi, dimana Kemendagri mencatat besaran anggaran urusan pendidikan Barru menempati posisi kelima di Sulsel. Sekitar 14,35 persen alokasi anggaran pendidikan digunakan di luar transfer daerah atau APBD murni dan 30,08 persen alokasi anggaran pendidikan digunakan dengan transfer daerah.

Komponen terakhir dalam penyusunan IPM adalah pengeluaran per kapita disesuaikan atau paritas daya beli (PPP). Pada 2018, pengeluaran per kapita disesuaikan penduduk Barru mencapai 10, 62 juta rupiah. Indikator ini mengalami pertumbuhan sebesar 3,28 persen dan tumbuh lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

Melihat angka dan pertumbuhan komponen penyusun IPM setiap tahun, pemerintah daerah diharapkan tetap menggenjot pembangunan manusia. Para pengambil kebijakan bisa melihat indikator mana saja yang membutuhkan perhatian agar akselerasi peningkatan kualitas manusia terus tumbuh lebih cepat. Dengan kualitas manusia yang tinggi diharapkan menjadi modal besar bagi pembangunan daerah di segala lini.

Dengan begitu, pembangunan akan betul-betul menyentuh seluruh elemen sehingga dapat memperbaiki taraf kehidupan masyarakat.

Penulis : M. Aliem, Kepala Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik, Badan Pusat Statistik Kabupaten Barru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed