oleh

Merdeka : Pancasila Harus Dibumikan

-opini-50 views
Media Sosial

Barrupos.com,Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia pada awal langkahnya melahirkan rentetan kesadaran para Founding father hingga menjadi suatu kekayaan pengetahuan terutama dalam merumuskan suatu Ide Dasar bernegara yang sampai hari ini kita menyebutnya Pancasila yang terangkum pada “wawasan keindonesiaan” seperti yang sering dibahasakan dan diistilahkan oleh Dr. Mohammad Sabri, M.A Direktur Pengkajian Materi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dalam seminar-seminar kampus. Jika meminjam hasil pemikiran seorang tokoh pendidikan Dunia yakni Poulo Preure bahwa pada dasarnya manusia memiliki tiga tingkatan kesadaran_kesadaran magis, Kesadaran Naif dan Kesadaran Kritis dari hal itu memberi suatu gambaran kepada kita bagaimana kesadaran tersebut terejawantahkan untuk mencapai kemerdekaan yang ditempuh dengan darah juang untuk cita-cita bersama yakni kemerdekaan yang berhasil diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Ide Negara kebangsaan atau Nation State bukanlah sama sekali baru atau semata konstruksi teoretis sebab keduanya menjadi suatu akar dan latar belakang keberadaan Kemerdekaan Indonesia. Sementara Kemerdekaan klimaks atau puncak yang hendak dicapai dari proses panjang hingga detik ini adalah suatu yang tidak henti ditengah kenyataan yang menghampiri. Lantas, mengapa merdeka dan kemerdekaan itu tetap menjadi impian bangsa Indonesia sampai detik ini?

Terpenuhinya syarat untuk mendirikan suatu Negara termasuk adanya wilayah, penduduk, konstitusi dan pengakuan pada kenyataannya menjadi suatu momentum Fase awal Kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 yang merupakan buah dari hasil kesadaran atas nasib yang sama suatu bangsa atas penjajahan kolonial kalah itu.

Tidak Heran jika Soekarno berucap kala itu “Perjuanganku mudah karena melawan kolonial, Perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsa mu sendiri” oleh sebabnya sebelum kemerdekaan itu diproklamirkan, dalam catatan sejarah pada 1 Juni 1945 pidato tentang Pancasila diperkenalkan yang nantinya menjadi asas, ideologi atau pandangan hidup bersama suatu bangsa dalam bernegara (Nation State). Sebagai Negara bangsa yang hidup di tengah realitas konkret, kita berhadapan dengan kenyataan-kenyataan himpunan banyak orang, yang tersusun dalam berbagai identitas kesukuan, keagamaan, aliran politik, dan lain-lain. Selain itu, kita juga harus menyadari kenyataan lain bahwa kita hidup di tengah pergaulan dunia yang tidak netral, yang penuh dengan benturan kepentingan. Tanpa adanya sebuah pijakan, semisal kepentingan nasional, sangat kecil kemungkinan suatu kemerdekaan mampu tercakapkan secara proporsional.

Baca Juga:  Penguatan Nasionalisme dan Islam Nusantara

Dengan melihat suatu kenyataan, bangsa ini tetap butuh sebuah arah pandangan hidup (World View): kemana kita menuju dan jalan mana yang cocok dengan tujuan yang hendak dicapai itu. Karena itu pada 18 Agustus 1945 Pancasila dari proses yang cukup panjang akhirnya rumusan selesai dirumuskan untuk kemudian dicantumkan ke dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Lalu, setelah itu disahkan dan dinyatakan sebagai dasar negara Indonesia merdeka pada 18 Agustus 1945 oleh BPUPKI.

Pada suatu kesimpulan, dengan berbagai kepentingan yang saling berbenturan baik dari dalam maupun luar negeri sehingga Indikator dari pencapaian kemerdekaan puncak bangsa Indonesia pada fase ini agar tidak terjadi apa yang disebut oleh Thomas Hobbes “Homo Homini Lupus” Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya dalam konteks keindonesiaan, maka segala bentuk perjuangan berat adalah membumikan butir dan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan Bernegara untuk kemerdekaan bersama.

“Semakin tinggi merah putih ‘melangit’ (berkibar) maka semestinya semakin dekat dan luas cahaya Pancasila menyinari bumi Indonesia”

Penulis : M. Rijal B. Akmal
(Mahasiswa Hukum Tata Negara UIN Alauddin Makassar)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed