oleh

OPINI: Isu Gender, Hukum dan Pandemik Covid-19

-Berita-676 views
Media Sosial

BARRU POS—Usai ditetapkan oleh pemerintah distancing sosial mengurangi pergaulan sosial dan tinggal di rumah saja bekerja di rumah, belajar di rumah dan beribadah di rumah. Maka yang terjadi adalah bapak-bapak yang selalu sibuk di kantor, disawah dan warung kopi sadar betapa pekerjaan dirumah begitu banyak yang dilakukan oleh perempuan seperti mencuci pakaian, memasak dan menjaga anak.

Virus corona memberikan kita banyak pelajaran termasuk melihat isu gender yang acap kali terjadi di masyarakat. Perubahan gaya hidup dalam waktu 2 minggu ini memaksa kita memahami pekerjaan perempuan.

Baca Juga:  Serius Maju di Pilkada, Malkan Amin Kembalikan Formulir ke PKS dan PPP

Mari kita tinggalkan sejenak virus pandemik covid-19 ini. Saya ingin membahas tentang isu gender mari kita lihat payung hukum yang telah berlaku. kita telah mempunyai basis legal yang menjamin hak – hak dan kesempatan bagi laki – laki dan perempuan. Hal tersebut terlihat dari Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang di buat oleh PBB pada tahun 1993. Namun, deklarasi tersebut tidak begitu dikenal oleh masyarakat di Indonesia, sehingga jarang dibuat sebagai acuan dalam kegiatan penyelesaian masalah yang berbasis gender (Sunanti Zalbawi, 2004).

Baca Juga:  Ketua Aji Desak Cabut 10 Pasal Pengancam Kekebasan Pers dari Ruu KUHP

Mengerucut ke Indonesia permasalahan isu gender pun masih banyak terjadi misal pada urusan rumah tangga meski saat ini sudah banyak perempuan yang bekerja di luar rumah seperti bekerja di kantoran dan aktif dalam dunia politik namun keputusan tidak bisa diambil sepenuhnya oleh perempuan dan meskipun bekerja di luar rumah perempuan harus mempertimbangkan pekerjaan di rumah pula bahkan sebisa mungkin penghasilan perempuan harus rendah dibanding laki-laki.

Deskriminasi seperti ini masih timbul di permukaan masyarakat utamanya yang tinggal di pedesaan. Gambaran rumah tangga seperti itu tentu akan berpengaruh pada tindakan-tindakan diskriminasi lainnya terutama ketika kita membahas tentang pendidikan dan pernikahan.

Baca Juga:  Somel Pengusaha Kayu Ulin di Barru Terbakar

Meskipun Indonesia telah mengeluarkan mashab undang-undang pendidikan UU No.47 tahun 2008 tentang wajib belajar 12 tahun yang artinya semua anak bangsa yang berumur 12 tahun wajib belajar tanpa melihat agama, suku, sosial, ekonomi dan jenis kelamin harus merasakan pendidikan yang sama di mata negara namun UU ini tidak begitu mampu mempertahankan argumennya karena hukum adat lebih dekat dengan masyarakat sehingga hal lumrah jika kita melihat anak perempuan yang baru lulus SMA langsung dinikahkan oleh orangtuanya yang tentu rawan meningkatkan angka perceraian dan populasi manusia di bumi serta ia juga tak punya kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi lagi serta pernikahan dini dibawa 19 tahun adalah perbuatan yang melanggar hukum tapi lagi-lagi hukum adat lebih kental dan lebih dekat selain hukum adat hukum agama pun ikut serta memberikan penjelasan dalam hal pernikahan namun Hukum agama (islam)  berada di jalan tengah sebagai mana dalam hadist Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu. Muttafaq Alaihi.

Permasalahan isu gender ini memang saling berkaitann dan masih menjadi persoalan yang diperbincangkan dengan hangat tanpa ada solusi yang nyata sebab masyarakat masih diberi asumsi dari ketiga hukum ini yang berbeda-beda dan kontradiksi. Kita benar-benar masih gagap menyikapi hukum negara, adat dan agama tentang isu gender . Tetapi pertanyaanya apakah pekerjaan rumah, pendidikan dan pernikahan merugikan  pihak perempuan dan benar menjadi masalah atau justru keadaaan saat ini baik-baik saja?

Baca Juga:  Aksi Kemanusiaan, Suardi Saleh Pimpin Donor Darah PMI Barru

Mari kita kembali ke virus covid-19 mengharuskan kita tiggal di rumah dan mengamati nasib perempuan yang jauh sebelum virus covid-19 ini menyerang perempuan sudah dulu tinggal lebih lama di rumah. Lalu timbul pertanyaan apakah  laki-laki nyaman tinggal di rumah selama dua minggu ??

Penulis : Agus Parewa
Reporter : Mudaksir Anci

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed