oleh

OPINI: Kita Barru, Kita Indonesia, Kita Pancasila

-Berita-74 views
Penulis : Muhammad Reza Abubakar

BARRU POS–Hari lahir Pancasila diperingati setiap tanggal 1 Juni, namun seperti apa Makna Pancasila, sudahkah esensinya ditanamkan dalam diri? Serta bagaimana seharusnya kaum Millenial memaknai hari lahir Pancasila.

Posting di berbagai sosial media dengan kalimat yang menggelora mungkin tidak pernah cukup untuk membuat kita sekadar ikut merasakan makna Pancasila, yang mungkin tidak mampu kita lihat wujudnya seperti apa, ternyata memiliki peran nyata dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Lalu sebenarnya, apa sih makna Pancasila dan bagaimana tindakan nyata dalam berpancasila? Tidak perlu lari jauh-jauh dari banyaknya definisi pancasila yang pernah tercipta sebelumnya, in short, Pancasila is a Hero.

Dengan menjadi orang Barru sebagaimana prinsip yang diturunkan oleh para pendahulu kita pada dasarnya merupakan makna Pancasila. Mengedepankan kehidupan sebagaimana prinsip hidup orang Bugis, Sipakatau (saling memanusiakan), sipakalebbi (saling menghargai), sipakainge’ (saling mengingatkan), adalah tindakan nyata dalam berpancasila.

Pancasila merupakan rumusan dari founding father Negara ini melalui pemahaman kebudayaan lokal di Nusantara yang begitu beragam. Alasan mengapa saya menjadikan prinsip hidup orang Bugis Barru itu sendiri merupakan tindakan nyata dalam berpancasila.

Pancasila merupakan simbol yang menyatukan, semua kalangan atau lapisan masyarakat berada dalam satu naungan NKRI. Tanpa melihat status, golongan atau jabatan, tapi tetap ada identitas diri. Dimana sifat dalam berpancasila itu hadir untuk membuat kita saling merangkul untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bersikap dan berperilaku sebagaimana prinsip orang Barru tanpa disadari kita telah mengamalkan nilai Pancasila. Misalnya, dengan hidup saling menghargai (Sipakalebbi) untuk menciptakan kehidupan di masyarakat yang rukun.

Kelemahan pembumian Pancasila disebabkan ketidakmampuan kita mengaktualisasikan Pancasila baik sebagai filsafat dan pandangan hidup. Penataran dan sosialisasi Pancasila selama ini berhenti sebagai butir-butir hafalan, tanpa kesanggupan mengembangkan epistemologi Pancasila sebagai paradigma ilmu (filsafat).

Parahnya lagi, berbagai wacana Pancasila dalam lingkungan pengetahuan itu pun gagal kita budayakan sebagai prinsip hidup dalam aksiologi kebangsaan dan kenegaraan, baik dalam kerangka perumusan perundangan dan kebijakan negara maupun dalam perilaku penyelenggara dan warga negara. Akibatnya, Pancasila menjadi miskin teori, miskin perbuatan; tidak ada integritas antara ucapan dan tindakan.

Hari Lahir Pancasila tidak boleh menambah seremonial pepesan kosong. Ini harus menjadi momentum memperkuat komitmen bangsa Indonesia untuk menjadikan Pancasila Sebagai falsafah dan pendirian hidup bangsa.

Tidak perlu menjadi orang lain, tetap berperilaku sebagai titisan Nabi Adam yang lahir di daerag keren bernama Barru adalah tindakan nyata dalam berpancasila.

Penulis : Muhammad Reza Abubakar
Reporter : Mudaksir Anci

Komentar

News Feed