oleh

OPINI: Musik itu Bukan Najis Guys

-Berita-159 views
Media Sosial
Penulis : Rijal Asyraf ( Mahasiswa aktif S1 UIN Alauddin Makassar

BARRU POS-– Once upon a time, hiduplah keluarga kecil di suatu negeri. Tampak sepasang suami dan istri yang usianya kepala empat, tengah menunggu putranya pulang dari pengajian. Tak lama kemudian muncullah batang hidung putranya dengan mengenakan peci, baju koko dan sarung bercorak batik. “Assalamualaikum wa rohmatullah wa barokatuh.” ucap sang anak kepada kedua orangtuanya. “Wa alaikum salam wa rohmatullahi wa barokatuh.” dijawabnya lengkap serempak oleh sang ibu dan ayahnya.

“Tenenonet tenenonet tenenonet net…” bunyi suara telpon sang ayah. “Astaghfirullahal ‘adziim, haram !!! ” Pekik sang anak. Mimik kedua orangtuanya bingung melongo melihat ekspresi anaknya yang tampak naik pitam. “Handphone ayah haram. Neraka !!! ” Tambah sang anak. “kamu kenapa nak? Kesurupan?” ucap sang ibu. Dengan nada tinggi sang anak menimpali “Ibu ini, harusnya marahin ayah dong. Masa’ ayah memelihara sesuatu yang haram sih? Itu kafir tau nggak, kafir !!!” Sungguh terluka hati sang ibu dan ayah melihat sikap sang anak.


Diatas merupakan kisah haru sekaligus agak lucu sih sebenarnya. Harunya adalah ketika si anak dengan lancangnya membentak kedua orangtuanya, kedua orang yang sangatlah berjasa dalam kehidupannya mulai dari membesarkan, merawat, menghidupi si anak nih. Dan lucunya adalah si anak ini kan pulang dari pengajian, seakan akan tuh dia barusan pulang dari latihan militer korea utara. Sangar-sangar gimana gitu, haram sana sini, nerakalah, kafirlah. Hey “sang anak” are you okay? Aduh… parah bet sih.

Oke, tapi disini kita tidak sedang mengupas kehidupan “panas” dari “sang anak” yah. Tapi disini kita akan membahas permasalahan yang bisa dibilang sebelas dua belas lah dengan short story di atas. Yaitu tentang musik yang di anggap “najis” oleh sebagian “spesies” orang. Baik guys sebelum kita membahasnya, saya selaku penulis alangkah lebih afdholnya kalau memberitahukan sedikit harapan saya untuk para pembaca. Agar kiranya bisa bersikap santai, rilex, namun dalam nalar yang dewasa tentunya.


Berbicara tentang musik, apa sih itu musik? Kita ta’aruf dulu nih dengan si musik, kalau si doi ntar dulu yah, kan kita lagi bahas si musik nih. He he he. Baper boleh yah karena itu manusiawi tapi jangan baper-baper amat, itu lebay namanya.

Ok, kembali ke pembahasan. Apa sih itu musik? Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Musik adalah ilmu atau seni menyusun nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan.


Nah, ketika sudah tau pengertiannya musik. Sekarang kita melangkah ke intinya nih, Ada apa sih dengan musik? Whats wrong with music? Mungkin saja short story yang ada di awal tulisan ini pernah terjadi, sedang terjadi atau akan sedang terjadi nantinya. Atau mungkin kita pelakunya? Melihat dari beragam cara para dai atau muballigh yang membahas tentang musik, maka akan menemukan beberapa perspektif yang muncul. Ada yang mengatakan musik itu haram, ada yang mengatakannya mubah atau boleh boleh saja.

Baca Juga:  Kabar Duka Datang dari Agung Hercules

Ada juga sampai yang melihat musik itu bagaikan najis. Kalau dengar musik langsung mulutnya otomatis bilang “haram, neraka, kafir”. Dan menyebarkan doktrin-doktrin berbekal ego tanpa ilmu dengan menyuruh orang untuk mengkampanyekan anti musik. Wah parah, orang-orang sibuk kampanye pemilu, dia malah kampanye begituan. Kita kampanye pilkada dapat kotak kue plus air mineral. Lah dia yang kampanye anti musik dapat apaan? pencitraan?

Pasti pernah dong dengar hadis dari Rasulullah S.A.W. Riwayat Bukhari, isi hadisnya kurang lebih begini “Akan ada suatu masa ummatku menghalalkan zina, sutera, khamr dan musik.” Menurut penjelasan Buya Yahya. Ulama itu membahas permasalahan ini. Jadi untuk guys-guys yang bukan ulama nih, apalagi tetangganya juga bukan. Tolong deh jangan ribut jadi ummat, terima ilmu serta fatwa dan kita bisa ambil disitu. Jangan kita sendiri yang pasang urat bahas suatu permasalahan yang dimana ilmu kita masih ceteng di sana. Ok? Ya harus ok. Lanjut penjelasan Buya Yahya, maksud dari hadis tersebut kata beliau.

Ulama meneliti nih, kenapa musik yang nggak dibahas keharaman mutlaknya di hadis lain, kok di hadis ini dia masuk? Ternyata jika di cermati penjelasan Rasulullah S.A.W yang sungguh bijak nan arif ini, bahwasanya jika perbuatan yang di dalamnya ada zina dan mabuk-mabukan, maka di situ ada aja musik sebagai media tambahannya. Jadi bisa disimpulkan jika kita memang jeli memahaminya, ternyata yang disebutkan Rasulullah itu memang sudah terjadi sekarang kan? Kita lihatlah tempat dugem, zina dibarengi minum khamr plus diiringi musik, itu baru sebagai seorang muslim harus menjauhi lifestyle kayak begituan.Tapi jangan juga musik di mutlakkan haram, kan dari penjelasan Buya Yahya tadi, ulama meneliti hadis tersebut karena melihat musik itu sendiri tidak memiliki masalah keharaman mutlak yang pernah di sampaikan Rasulullah S.A.W. sebelumnya.

Bahkan beliau membiarkan ada kegiatan bermusik di dalam rumahnya, istri beliau Siti Aisyah sendiri yang mengatakannya dalam sebuah riwayat hadis. Rasulullah juga pernah melarang perbuatan sahabat yang melarang pertunjukan musik dalam sebuah event.

Beliau membiarkan hal itu dan for your information yah guys, kehidupan pada masa beliau juga tidak lepas dari yang namanya musik. Abu Thalib al-Makki. Menurut Abu Thalib, para sahabat Nabi SAW, seperti Abdullah bin Ja’far, Abdullah bi Zubair, Mughirah bin Syu’bah, Muawiyah dan sahabat Nabi lainnya suka mendengarkan musik. Menurutnya, mendengarkan musik atau nyanyian hampir sudah mentradisi dikalangan ulama salaf ataupun para tabi’in.

Baca Juga:  Bupati Suardi Saleh, Serahkan Zakat Secara Simbolis 608 Warga Kurang Mampu

Bahkan, kata Abu Thalib, ketika dia berada di Makkah, pada saat peringatan hari-hari besar, orang-orang Hijaz merayakannya dengan pagelaran musik. Beliau S.A.W. pulang beserta rombongan usai melakukan perang dengan kaum kafir, sambutan yang diterima adalah musik. Lantunan rebana yang indah disertai lirik lirik puitis berpadu dalam suasana suka cita. Nggak ada tuh kasus, di sela-sela momen tersebut ada yang teriak “Woy diam kafir !!!” kagak ada guys. Memang di zaman kita nih, ada aja kelakuan kayak gitu.

Kita melangkah ke penjelasan ustad Abdul Somad, beliau menjelaskan dalam kitab fiqih yang ditulis Syekh Yusuf Qardawi. “Musik itu sama dengan cakap atau ucapan. Kalau musik itu baik maka baik, kalau musik itu tak baik maka tidak baik,” jelas Ustadz Abdul Somad. UAS atau Ustadz Abdul Somad pun kemudian meluruskan pendapat yang menyebut jika suara perempuan itu aurat. “Suara perempuan itu aurat kalau lemah, lembut, gemulai ,mendesah-desah. Kalau bershalawat gak apa-apa,’ jelasnya. “Mana ada orang bernafsu mendengar shalawat,” kata Ustadz Abdul Somad lagi.

Ustad Adi Hidayat juga menyampaikan dalam ceramahnya, hukum bermusik tergantung dari pesan yang disampaikan oleh musik tersebut. Apakah akan menimbulkan kebaikan atau kemudharatan. Apa itu musik? Ringtone itu musik. Sehingga, ujar Ustadz Adi Hidayat harus dipahami dahulu apa itu musik.


Masih tidak puas dengan penjelasan ustad, monggo kita melihat penjelasan dari dua organisasi islam terbesar dan tertua di Indonesia. Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah. Kita mulai dari Muhammadiyah. Dilansir dari instagram Lensamu, Majelis Tarjih PP Muhammadiyah berpendapat, seni budaya berupa musik atau tari-tarian yang sopan dan tidak mengundang atau membangkitkan nafsu syahwat, dibolehkan dalam Islam. Apabila menarik kepada keutamaan, hukumnya sunnah dan mubah.

Kita melangkah ke penjelasan Nahdatul Ulama, melihat dari pendapat imam Al-Ghazali yang bisa di jadikan bahan berpikir kita adalah ketika beliau mengatakan “Ketahuilah, pendapat yang mengatakan, ‘Aktivitas mendengar (nyanyian, bunyi, atau musik) itu haram’ mesti dipahami hukum seperti ini tidak bisa diketahui hanya berdasarkan aqli semata, tetapi harus berdasarkan naqli. Jalan mengetahui hukum-hukum syara‘ (agama), terbatas pada nash dan qiyas terhadap nash. Yang saya maksud dengan ‘nash’ adalah apa yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW melalui ucapan dan perbuatannya. Sementara yang saya maksud dengan ‘qiyas’ adalah pengertian secara analogis yang dipahami dari ucapan dan perbuatan Rasulullah itu sendiri. Jika tidak ada satu pun nash dan argumentasi qiyas terhadap nash pada masalah mendengarkan nyanyian atau musik ini, maka batal pendapat yang mengaharamkannya. Artinya, mendengarkan nyanyian atau musik itu tetap sebagai aktivitas yang tidak bernilai dosa, sama halnya dengan aktivitas mubah yang lain.”

Baca Juga:  PAN dan Demokrat Diminta Tak Khianati Prabowo-Sandi

Berangkat dari apa yang kemukakan di atas, Imam Al-Ghazali tidak menemukan satupun nash yang secara jelas mengharamkannya. Kalau pun ada nash yang mengharamkan musik dan nyanyian, keharamannya itu bukan didasarkan pada musik dan nyanyian itu sendiri, tetapi karena dibarengi dengan kemaksiatan seperti minum-minuman keras, perzinaan, perjudian, ataupun melalaikan kewajiban.


Bagaimana nih guys? Sudah ada yang mengena belum dari penjelasan ustad-ustad plus dua ormas islam kita? Atau mau berubah jadi ustad nih plus buat ormas islam yang baru? Kemudian membuat perspektif yang lain? Sebenarnya sih nggak apa apa, kan kemerdekaan berpendapat itu seharusnya dihargai di negara kita. Tapi cukup tau diri aja sih sebelumnya he he he.


Oh iya masih ada tambahan lagi nih, Almarhum Mahmud Syaltut, mantan pemimpin tertinggi al-Azhar Mesir, dalam fatwanya menegaskan bahwa para ahli hukum Islam telah sepakat tentang bolehnya nyanyian guna membangkitkan kerinduan melaksanakan haji, semangat bertempur, serta dalam peristiwa-peristiwa gembira, seperti lebaran, perkawinan, dan sebagainya.

Nah, sebagai penulis saya hanya bisa menyampaikan apa yang guru-guru kita sampaikan. Karena tugas kita memang yang masih di berikan umur oleh Allah ini adalah untuk saling nasehat-menasehati. Lihat deh surah Al-Asr ayat 1 sampai 3 kalau nggak percaya. Dan pesan saya sekaligus kesimpulan dalam tulisan saya ini. Saya mengajak kepada guys-guysku, saudara(i) ku sekalian agar bersikap bijak, berpedoman serta jangan kaku lah menjalani tuntunan-tuntunan dari agama islam itu sendiri.

Kita dikasi modal akal oleh Allah untuk bisa memulai memahami sesuatu dengan mempelajarinya. Kan ayat Al-Qur’an pertama turun kepada Rasulullah S.A.W. itu adalah perintah membaca, “Bacalah”. Bukan perintah pertamanya itu “sampaikanlah”. Jadi, langkah pertama itu dulu adalah mempelajarinya baru bisa menyampaikan kemudian. Logis dan realistis kan? Itu baru umat beragama.

Islam itu adalah agama yang bukan hanya menghadirkan tuntunan, namun lebih daripada itu ada keindahan di dalamnya. Mirisnya ada saja umat Islam yang menutup keindahan itu dengan mengedepankan ego serta pikirannya yang sempit. Open minded yah guys ! Jangan lagi melihat hal seperti musik itu najis. Jangan sampai juga short story di awal cerita tadi, pelakunya itu kita. Waduh lebay sih itu guys. Wkwkwk. Jangan kapok belajar guys !

Penulis : Rijal Asyraf (Mahasiswa aktif S1 UIN Alauddin Makassar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed