oleh

OPINI : Perempuan dan Belenggu Kebebasan

-opini-144 views
Media Sosial

OPINI – Sejak masa pra hingga sekitar pasca kemerdekaan bangsa Indonesia, sosok perempuan agaknya tidak begitu disoroti kehadirannya, bahkan pembicaraan sekitar kaum perempuan seolah luput dari perbincangan sekelompok kaum laki laki bilamana mereka tengah bersantai sembari menyeruput secangkir kopi. Kehadiran perempuan seolah tak terhitung sebagai pasrtisipan dalam tatanan hidup sosial. Bagaimana tidak demikian, keberadaan perempuan baru tercium ketika asap tungku di dapur mengepul atau ketika suami mengoceh karna tidak tersedia makanan di meja makan atau ketika suara anak yang rewel karna kelaparan.

Sukarno dalam bukunya memandang keadaan perempuan pada masanya belum sepenuhnya merasakan kemerdekaan,

“Ternak masih melihat dunia luaran, tetapi di beberapa daerah di Indonesia masih banyak Zubaidah-Zubaidah dan Saleha-Saleha yang dikurung antara dinding dinding yang tinggi, yang mereka lihat sehari hari hanyalah suami dan anak, periuk nasi dan batu pipisan saja” (Ir. Sukarno, 1947: Sarinah, hl.10).

Bahkan Sukarno menyebut bahwa ternak lebih merdeka ketimbang perempuan.

Sebenarnya kedaan demikian sudah dianggap lebih baik jika kita mengulik sedikit sejarah perjuangan RA. Kartini sebagai tokoh perempuan yang masyhur –meskipun banyak pejuang perempuan lain yang turut berkontribusi dalam memperjuangkan hak hak perempuan. RA. Kartini dikisahkan hidup sebagai anak seorang raja Keraton yang baik dan anggun dengan balutan kebaya dan sanggulnya. Kehidupan kerajaan nyatanya belum memberi rasa lega kepadanya selama Ia masih terkurung di balik dinding Keraton dan melulu dituntut mempelajari etika dan kebiasaan seorang putri ningrat. Namun keadaan tersebut tidak mematikan semangatnya untuk mendobrak kekakuan adat istiadat yang selama ini merantai kedua kakinya untuk menghirup kebebasan dan mengecap manisnya pendidikan yang tidak hanya sebatas pendidikan putri ningrat saja. Berkat perjuangan dan kegigihannya beliau telah mengubah keadaan perempuan melalui pemikiran pemikirannya yang mampu membakar semangat perempuan lain untuk melawan rasa ketidak berdayaan mereka di hadapan ayah dan suaminya.

Perjuangan Kartini memang sangat berbekas dalam sejarah bangsa ini, utamanya bagi kaum perempuan itu sendiri. Kendati demikian, perjalanan dan perjuangan perempuan untuk tetap merasakan kemerdekaan secara batiniyah tidak serta merta berjalan sesuai harapan, sebagai mana yang telah digambarkan sebelumnya di atas ketika Sukarno masih merasa perempuan tidak sebebas ternak di luar rumah. Loh kok bisa ? Banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, menurut hemat saya perempuan pasca perjuangan RA. Kartini belum sepenuhnya bebas sebagaimana yang kita bayangkan. Bahkan boleh jadi tidak semua perempuan merasakan energi keberanian Kartini dan justru masih merasa nyaman dengan keadaannya saat itu –yang masih tunduk dan patuh pada otoritas lakinya. Agaknya sulit untuk mengubah kebiasaan yang sudah mngakar bertangkai dikalangan masyarakat secara singkat, butuh penyesuaian yang lama dan bahkan terkadang memutuskan untuk kembali pada kultur sosial lama dengan berbagai alasan. Atau mungkin pendidikan yang telah diperjuangkan Kartini masih dimaknai sebatas pendidikan yang berkaitan dengan ranah domestik saja. “Asal bisa masak dan mengurus rumah” atau “perempuan tidak perlu sekolah tinggi tinggi karna nanti tempatnya hanya di dapur kasur dan sumur”, yah, begitulah pandangan mengenai perempuan yang saya katakan kolot.

Baca Juga:  Opini : Mengenang Rumah Tua Bernilai Sejarah di Kampung Baru Palanro Momentum Dirgahayu RI-75

Demikianlah sepenggal gambaran perempuan di masa lalu. Di zaman Kartini, perempuan berjuang melawan kekakuan adat istiadat demi mendapatkan kemerdekaan. Begitu juga di era sekitar pasca kemerdekaan, perempuan masih harus terus berjuang melawan otoritas patriarki demi memperoleh hak dan kesempatan yang sama dengan laki laki. Sekarang kita (baca: perempuan) tidak lagi dihadapkan dengan permasalahan semacam itu. Melihat akses yang telah terbuka lebar di depan mata, tidak lagi berbicara mengenai laki laki atau perempuan, tapi tentang siapa yang mampu memanfaatkan fasilitas yang ditawarkan oleh dunia. Jangankan lingkup global, kita bicara saja mengenai Indonesia. Indonesia sebagai negara yang menganut paham demokratis telah membuka ruang bagi perempuan untuk berkarir dan menorehkan karyanya untuk bangsa. Sebagai contoh dalam akses pendidikan, perempuan tidak lagi dibatasi untuk duduk berdampingan dengan laki laki dalam ruang kelas untuk belajar. Bahkan jika kita amati, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik terkait dengan angka partisipasi sekolah menurut jenis kelamin menunjukkan jumlah peserta didik perempuan di sekolah sampai pada akhir 2019 kemarin hampir sebanding dengan jumlah peserta didik laki laki baik di pedesaan maupun di perkotaan, dengan angka partisipasi sekolah laki laki dan perempuan masing masing 71,37 dan 73,41.
Meski demikian, masih saja timbul tanda tanya yang sangat mendasar,mau diapakan pendidikan bagi perempuan ? atau, perempuan yang sudah lulus sekolah, bisa apa ? Dan masih banyak hal yang perlu diperjelas terkait dengan pendidikan perempuan. Bukan pendidikannya yang salah, tapi mungkin lebih kepada ketidak siapan perempuan saat ini untuk menyadari akan potensinya sebagai mahluk yang lahir dengan potensi alamiah sebagai anugrah Tuhan pada setiap ndividu.

Baca Juga:  Sekitar 20 Orang Aliansi Pemuda Bersatu, Kabupaten Barru Gelar Aksi

Melihat fenomena perkembangan industri yang sangat pesat utamanya yang berkaitan dengan dunia perempuan seperti fashion, kecantikan, tekhnologi, pendidikan, bahkan sampai ke ranah perpolitikan, seharusnya bisa menjadi peluang bagi perempuan untuk melebarkan sayapnya dan menggaungkan semangat kartini nya untuk bersaing secara positif dalam dunia industri. Kenyataannya perempuan justru menjadi korban akan hal itu, betapa tidak, seolah sebagian perempuan terlena dengan segala fasilitas yang ada. Mereka hanya disibukkan dengan sesuatu yang tidak produktif seperti sibuk mengurusi outfit yang cocok dikenakan dalam sebuah iven, sibuk memilih merk skincare terbaru, sibuk curhat di media sosial dan bahkan pelajar SMA lebih sibuk dalam dunia perpacarannya ketimbang serius dalam pelajaran sehingga,alih alih mereka berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, justru mereka lebih tertarik untuk menentukan tipe suami yang mereka idamkan.

Mental perempuan saat in seolah ternina bobokkan oleh kenyamanan yang ada. Itulah mengapa saya memberi judul tulisan ini “Perempuan & Belenggu Kebebasan”, perempuan memang bebas secara hak dan merdeka untuk berkesempatan sebagaimana laki laki, namun dengan kebebasan itu justru membelenggu perempuan sehingga tidak mampu lagi –atau mungkin tidak mau keluar dari zona nyamannya- mengkaji lebih dalam tentang dirinya dan potensi yang dimilikinya sebagai perempuan.
Atau boleh jadi perempuan masih terjebak oleh doktrin yang mengatakan bahwa kodrat perempuan adalah di rumah mengurus anak dan berbakti kepada suami. Padahal, berdasarkan struktur anatomi tubuh perempuan, kodrat perempuan hanya empat yakni, menstruasi,mengandung, melahirkan dan menyusui, lebih dari itu antara perempuan dan laki adalah sama. Saya tidak mengatakan bahwa menjadi seorang istri adalah sesuatu yang tabuh, justru secara keseluruhan, istri adalah perwujudan dari ke empat kodrat perempuan. Namun apakah potensi yang telah dibekali oleh Tuhan yang kita bawa sejak lahir hanya menjangkau ruang keluarga saja, padahal kalau kita mau kita bisa mempengaruhi perubahan dunia menjadi lebih sensitif jender.
“Padahal perempuan terlahir sebagai mahluk yang merdeka”, kurang lebih seperti itulah ungkapan dari Siti Khadijah Budiawan sekertaris ketua KOPRI PKC Sul-Sel pada salah satu diskusi online yang diadakan oleh PMII cabang Barru. “perempuan saat ini telah ter doktrin oleh kata ‘Muslimah’ yang salah kaprah, bahwa Muslimah sejati adalah yang tinggal di rumah dan mempercantik diri untuk suaminya. Padahal Muslimah sejati adalah mereka yang mengambil peran dalam mengawal perkembangan zaman dengan berbagai aktivitas positif yang bisa dilakukan di luar rumah” lanjutnya. Hal demikian sepertinya memang didukung oleh lingkungan, sehingga perempuan kehilangan nalar kritisnya untuk memahami keadaan dan justru larut di dalamnya.
Sebagai perempuan masa kini, atau yang akrab kita sebut sebagai perempuan milenial seharusnya mampu memanifestasikan semangat Kartini dengan gaya baru agar bermunculan kartini kartini baru yang sejalan dengan zaman. Hal yang perlu kita pikirkan adalah apa yang bisa kita berikan kepada Kartini sebagai bentuk terima kasih untuk apa yang telah Ia perjuangkan yakni emansipasi perempuan. Dan musuh terbesar perempuan adalah zona nyaman mereka sendiri. Ketika hal itu bisa dikalahka, maka sejatinya perempuan telah benar benar merdeka.
Sebagai penutup, saya hanya ingin mengatakan bahwa, perempuan yang merdeka adalah perempuan yang mampu mengekspresikan potensinya secara positif tanpa melupakan kodratnya sebagai seorang perempuan.
“Tidak ada yang membenci zona nyaman, namun kenyamanan tidak menjamin rasa puas”

Baca Juga:  Opini : Aku dan Ide Untuk Barru

Penulis : Syamsiar (Kopri PMII Barru)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed