oleh

OPINI : Sikap Pasrah dan Membangkang Menjadi Aroma Pandemi

-Berita-234 views
Media Sosial

BARRU POS–Sebelum memasuki bulan suci ramadan fatwa Majelis Ulama Indoneia (MUI) kemudian lebih dulu terngiang di kepala persoalan pelarangan beribadah di masjid atas dasar adanya covid-19 yang kini tengah mengglobal, maka dari itu fatwa ini menjadi semakin kuat karena tujuan kita untuk beribadah mengakibatkan adanya kerumunan yang berpotensi terjadinya penyebaran virus corona tersebut.

Virus corona yang menyerang dunia bahkan khususnya di Indonesia dan beberapa belakangan terakhir ini peningkatan jumlah virus corona yang kian meingkatnya tercatat pada update Jum’at 15 Mei 2020 pada pukul 15:58 tercatat ada 16.496 kasus covid-19 yang dinyatakan positif bersumber dari KOMPAS.com. Sudah tentu hal ini menyebabkan sejumlah kekhawatiran dari tiap masyarakat yang ada di tiap daerah sebab jumlahnya yang kian meningkat.

Bulan suci yang tinggal hitungan hari akan berakhir bahkan pada hari ini tanggal 15 mei ramadan telah memasuki yang ke 22 artinya ada pertanyaan yang kembali menghantui kepala perihal apa yang diberikan pada hari-hari ramadan yang telah lalu? Bagaimana kita dalam menyikapi persoalan tersebut bila disandingkan dengan virus corona!, jika kita lihat dari sudut pandang seperti ini maka lagi-lagi kita diperhadapkan dalam sebuah plihan.

Ada banyak hal yang menjadi tawaran persoalan sikap kita terhadap virus corona ini dengan bulan suci ramadan namun ada dua hal yang menjadi sorotan jika kita melihat apa yang terjadi di lapangan bagaimana kebanyakan masyarakat menyikapi hal tersebut besarnya tingkat kepanikan hingga menimbulkan sikap enggan untuk berusaha bahkan beberapa orang menunjukkan keberanian di muka umum atau di masyarakat bahwa mereka tidak takut apapun sebab yang ditakuti hanya Allah semata di mana hal ini sudah menampilkan terdapat sikap kepasrahan atas yang terjadi dan tak mampu menunjukkan semangat untuk terus berjuang, meskipun hal tersebut memanglah benar dikarenakan lagi-lgi kita merujuk kepada sebuah pilihan.

Baca Juga:  Gelar Penamatan Virtual, 115 Siswa SMP Islam Athirah Bukit Baruga Resmi Dinyatakan Sebagai Alumni

Di sisi lain sikap membangkang yang tunjukkan kian menjadi-jadi adanya banyak peraturan serta pelarangan yang diberlakukan oleh pihak pemerintah hingga mengakibatkan adanya rasa seperti terpenjarakan atau kebebasan yang dibatasi maka dari itu banyaknya yang melanggar hal tersebut dikarenakan beberapa diantara mereka merasa bahwa aman-aman saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi-lagi berbicara persoalan pilihan.

Nah kita beranjak ke bagaimana ibadah kita yang mesti dilakukan di rumah utamanya salat tarawih yang tak lagi dilakukan di masjid yang mana menuai banyak pro dan kontra dari masyarakat. Kedua pilihan ini menjadi sikap yang terus ditampilkan hingga saat ini namun jika kita terus berada dalam ranah tersebut yang mana hanya saling menyalahkan, selalu menebar sikap keegoisan tanpa menghadirkan solusi sudah tentu hal tersebut menunjukkan bahwasanya kedamaian nampak dikejauhan. Bahkan hal tersebut menjadi salah satu penyebab minimnya kita dalam persoalan memanusiakan manusia seperti pernyataan di salah satu bukunya Fahd Djibran yang berjudul “Yang Galau Yang Meracau”. Nah maka dari itu perlunya sikap untuk saling mendukng dan juga saling merangkul sebagai sikap ketahanan kita dalam menghadapi wabah ini.

Penulis : Lili Cahyati

Reporter : Mudaksir Anci

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed