oleh

OPINI : Terjung ke Dunia Politik Bagi Kaum Agamis; Boleh atau Tidak?!

-opini-55 views
Media Sosial

BARRUPOS | OPINI – Siapapun, kalau sdh masuk ke dunia politik, dia otomatis menjadi orang hina dimata rivalnya, sekaligus dibuat menjadi hina dimata kebanyak orang. Demikian statement yang berupaya dibangun menjadi mindset oleh kaum sekularis, agar tokoh-tokoh agama tidak ikut derta bersaing di dunia politik. Apakah statement tersebut keliru? Menurut kami tidak sama sekali, bahkan sangat benar adanya. Sebutlah misalnya yang dialami oleh; almarhum KH. Abdurahman Wahid, KH. Zainuddin MZ dan yang masih berlangsung hingga detik ini KH. Ma’ruf Amin (Wakil Presiden Priode 2019-2024). Ketiga tokoh ini merupakan tokoh yang “hina” dimata sebagian orang setelah terjung kedunia politik.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Menurut pengamatan kami, hal tersebut terjadi oleh karena;

Pertama, manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Demikian dikatakan dalam sebuah hadits (ada yg mengatakan ungkapan ulama). Sehingga bagaimanapun baiknya pribadi seseorang, dalam hidupnya dia pasti pernah melakukan kesalahan. Ada cerita menarik dari salah seorang dosen kami saat beliau gagal lolos menjadi hakim Mahkamah Konstitusi (MK). Kata beliau, salah satu penyebab tidak lolosnya dirinya adalah karena diketahui oleh tim seleksi hakim MK, bahwa dirinya pernah suatu ketika (saat masih sekolah ditingkat pertama alias SMP), melempar sebuah mobil pete-pete bersama beberapa temannya dengan sebuah kerikil. Demikian juga dalam dunia politik, akan ada saja kesalahan yang berupaya dimunculkan kepermukaan oleh politikus picik, guna menyerang privasi pesaingnya.

Note sebelum kita lanjut;
Bukan hanya prilaku sebenarnya yang sering digunakan mengklaim “salah/hina” tidaknya seseorang, tapi juga sifat dan sikap yang sering kali tidak disenangi oleh semua orang (subjektifism). Dan… Ketidaksenangannya itu akan berubah menjadi alasan membuat rival politiknya menjadi orang ter”hina”. Yaa, itulah politikus (sebagian).

Kita lanjut….
Kedua, atas dasar yang pertama tersebut di atas (yaitu bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa), masing-masing orang yang terjung kedunia politik, entah itu dirinya ataupun pengangumnya, akan menggunakan hal niscaya tersebut untuk meng”hina”kan rivalnya.

Baca Juga:  Presiden Dan Wakil Presiden Gagal Dilantik?

Ketiga, ada politikus yang punya jiwa bersaing tidak sehat. Sekecil apapun kesalahan sang rival, akan berupaya dia nnarasikan agar menjadi kesalahan yang terkesan besar, seperti menyebarkan informasi yang tidak benar dengan penafsiran atas sebuah fenomena yang terjadi pada diri rivalnya, atau bahkan dengan cara memfitnahnya sehingg sang rival menjadi sosok yang hina.

Keempat, ini berlaku bagi yang sudah menjabat (termasuk yg dari kaum agamis seperti tiga tokoh yang disebutkan di atas), adalah keniscayaan berhadapan dengan persoalan masyarakat yang sangat kompleks pada satu sisi, dan pada sisi yang lain adanya keniscayaan pada diri sang politikus sebagai manusia, yang memiliki seribu keterbatasan. Artinya, mustahil baginya menyelesaikan semua persoalan yang dihadapi oleh masyarakat, atau dengan bahasa yang lain, ia hanya bisa menyelesaikan persoalan2 tertentu saja. Demikian pula saat membuat kebijakan, akan ada pihak yang harus dikorbankan demi kepentingan umum yang lebih besar. Al hasil, keniscayaan yang muncul selanjutnya adalah lahirnya respon beragam dari masyarakat, ada yang simpati ada juga yang sebaliknya. Yang simpati adalah yang persoalannya diselesaikan dan atau kebijakan yang lahir sesuai inginnya, dan yg tidak simpati adalah yg tdak diselesaikan persoalannya dan atau kebijakan yg lahir tidak sesuai inginnya. Kemudian, Persoalan yang tidak diselesaikan dan kebijakan yang tidak sesuai dengan kepentingan sebagian tersebut akan dimanfaatkan oleh kalangan oposisi untuk meng”hina”kan si pejabat.

Kalau demikian, apakah ini berarti orang-orang agamis, utamanya yang sudah dicap sebagai ustdz, ulama dan kiyai oleh masyarakat, tidak boleh terjung kedua politik seperti ingin kaum sekularis???!!!! Jawabnya tentu tidak. Seorang Ustadz, Ulama, Kiyai dan atau gelar apapun yang dimilikinya, boleh boleh saja terjung kedunia politik, bahkan sejatinya menurut hemat kami wajib. Kok bisa? Bukannya spontanitas dia akan menjadi sosok manusia yang hina? Iya, memang benar demikian. Terus kenapa boleh?? Alasannya, Jika dia menjadi sosok politikus yang amanah dan jujur, maka hinanya dia hanya dimata manusia atau lebih tepatnya dimata rivalnya, tapi di”mata” Allah dia akan tetap menjadi sosok yang mulia. Bukankah Nabi tetap mulia dimata pengikutnya dan di”mata” Allah (tentunya), meski beliau dipandang “hina” oleh orang-orang yang membencinya???!!!

Baca Juga:  Melihat Suara Stake Holder Golkar Jelang Munas Partai Golkar

Berdasarkan paragraf terakhir ini, kami ingin mengatakan bahwa orang-orang agamis yang baik, jujur, amanah, serta yang memiliki integritas moral yang tinggi, harus terjung kedunia politik untuk melakukan perubahan. Adapun jika nantinya dia spontan menjadi sosok yang hina dimata manusia/rivalnya, biarlah Allah yang memuliakannya….!!!!!(*)

Tulisan ini dipublikasikan di Media online penulis melalui akun Facebooknya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed