oleh

Pembenihan Udang Windu IPUW Merupakan Instalasi Litbang Balai Riset Perikanan

-Berita-1.578 views
Media Sosial

Barru Pos–Berkunjung ke Instalasi Pembenihan Udang Windu (IPUW) yang merupakan salah satu instalasi litbang Balai Riset Perikanan Budidaya Air payau dan Penyuluhan Perikanan yang dibangun dengan tujuan khusus untuk melaksanakan litbang pembenihan udang windu Penaeus monodon dari berbagai aspek. Pada kesempatan tersebut Bupati Barru didampingi langsung oleh Kepala BRSDM KP Prof. Ir. Sjarief Widjaja, Ph.D.,FRINA, Plt. Kepala BRPBAP3 A.Indra Jaya asaad, S.Pi.,M.Sc

Pada kunjungannya tersebut Bupati Barru berkesempatan melihat secara langsung proses pembenihan khusunya udang windu, yang langsung dijelaskan langsung oleh Dr. Andi Parenrengi, M.Sc yang merupakan peneliti senior sekaligus sebagai Ketua Pusat Unggulan Iptek Udang (PUI) BRPBAP3, sambil berkeliling melihat fasilitas yang ada di IPUW Dr. Andi Parenengi menjelaskan berbagai kegiatan litbang udang windu mulai dari karakterisasi induk udang windu populasi alam dan tambak (morfologi, genetik, dan marker DNA), perakitan strain unggul udang windu Tahan penyakit (SPR) – teknologi transgenesis tumbuh cepat – marker DNA tahan penyakit – mikrosatelit DNA ketahanan penyakit, produksi calon induk udang windu SPF sistem resirkulasi in-door dan tambak, produksi massal larva SPF udang windu, deteksi patogen penyebab penyakit serta pengembangan litbang pakan pematangan induk.

Untuk mendukung tugas dan kegiatan tersebut, IPUW dilengkapi dengan beberapa fasilitas utama berupa: gedung karantina, nucleus center, multiplication center, lab. bioteknologi, tambak produksi induk, produksi massal larva SPF, sistem pengelolahan air sumber.

Lebih lanjut A. Parenrengi menambahkan” pemanfaatan IPUW merupakan pelaksanaan tusi BRPBAP3 dalam mengembang tugas litbang komoditas udang windu khususnya kelompok peneliti yang terkait dengan pembenihan udang windu dari aspek produksi larva sampai dengan produksi calon induk. Berdasarkan fasilitas yang ada, maka produksi larva unggul SPF ditargetkan sebanyak 20 juta per tahun dan calon induk 5.000 ekor per tahun.

Baca Juga:  Pangdam XII/Tpr Hadiri Festival Cap Go Meh Singkawang 2020

Hasil uji coba pemanfaatan IPUW dalam kurun waktu 2012-2013, larva SPF yang telah dihasilkan, didistribusikan ke pembudidaya udang windu di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah. Sedangkan untuk produksi calon induk masih terbatas penggunaannya untuk litbang pakan dalam pematangan dan pemijahan induk, keteknikan wadah budidaya seperti resirkulasi in-door, serta karakterisasi calon induk udang windu. Keunggulan larva udang windu yang dihasilkan adalah telah dijamin bebas penyakit (SPF) melalui analisis PCR, dan telah melalui uji morfologi serta uji vitalitas larva.

Peningkatan mutu genetik udang windu juga telah dirintis dengan target perakitan strain unggul udang windu dengan karakter tumbuh cepat (TC) dan tahan penyakit (TP).

Perakitan strain udang windu TC dilakukan dengan pendampingan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut, Gondol-Bali dengan memanfaatkan marker DNA sebagai indikator seleksi udang windu TC. Perakitan strain udang windu TP diawali dengan kajian dasar meliputi isolasi dan karakterisasi gen ketahan penyakit, cloning, pembuatan konstruksi gen, metode transfer gen, ekspresi gen dan karakterisasi larva dan calon induk udang windu TP. Kegiatan tersebut dilakukan dengan kerja sama riset Institut Pertanian Bogor. Hasil kegiatan marker DNA udang windu TC tersebut menunjukkan bahwa dengan mengunakan udang windu hasil seleksi, peningkatan pertumbuhan dapat mencapai 35,2% dibandingkan dengan kontrol. Selain itu, keunggulan lainnya adalah ukuran udang windu relatif seragam. Sedangkan perakitan srain udang windu TP dilakukan dengan dua pendekatan yakni (1) teknologi transgenesis dan (2) marker mikrosatelit DNA.

Hasil yang telah dicapai memperlihatkan bahwa peningkatan ketahanan penyakit dapat dilakukan dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan ketahan penyakit dapat mencapai 24,5% terhadap virus WSSV dibandingkan dengan kontrol, serta peningkatan 67% terhadap Vibrio harveyi (penyebab penyakit vibriosis) dengan nilai RPS 64,3-66,7%. Kendala pematangan induk asal tambak sementara dikaji dengan strategi litbang pakan dan aplikasi hormon yang dapat memacu kematangan gonad induk udang windu.Sasaran produksi benih udang windu tidak hanya terbatas pada pembudidaya udang tetapi juga pada kelompok pembenihan skala kecil (backyard). Distribusi benih minimal PL-12 yang telah disertai dengan uji PCR, morfologi dan vitalitas dilakukan langsung ke pembudidaya sedangkan distribusi naupli dilakukan pada backyard untuk dilakukan pemeliharaan larva sampai mencapai standar ukuran PL siap tebar. Sedangkan dampak tidak langsung yang didapatkan oleh pembenih dan pembudidaya adalah produksi larva dan budidaya tambak udang windu.

Baca Juga:  Tegas Kapolres Ikhwan Lubis Sikat Habis Pelaku Kejahatan di Batu Bara

Rilis: Zaldi Humas Perikanan, Kelautan dan Pertanian

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed