oleh

Pemikiran Sang Doktor Muda Asal Mallusetasi Kabupaten Barru

-Pendidikan-321 views
Media Sosial

Barrupos.com, Fadli, sapaan dari seorang mahasiswa UM Parepare yang telah diwisuda Doktor Program pascasarjana dengan usia 31 tahun, dengan IPK 3,91.

Menurut Dr. Muhammad Fadli, bahwasanya sebagian besar masayarakat akan menilai pendidikan dari gelar akademik yang dimiliki. Apakah sarjana, master, doktor, atau bahkan profesor. Namun tentunya tidak ada jaminan deretan gelar tersebut bisa menjadi cerminan kualitas pendidikannya.

Benar bahwa ada proses dan tanggung jawab di balik gelar-gelar tersebut, tapi apakah artinya yang tidak bergelar menjadi kelompok terendah dalam kasta pendidikan? Tentu tidak, karena kita semua tau bahwa pendidikan tak sebatas gelar. Seperti halnya cinta yang tidak cukup dinilai dari status, melainkan perlu adanya pembuktian perilaku.

Mari kita buktikan bahwa pendidikan memang bukan sebatas gelar saja

Mana yang lebih mencerminkan perilaku seseorang yang terdidik, pejabat yang berderet titel sarjana tapi korupsi dan khianat jabatan atau petugas pegawai rendahan yang jujur dan amanah yang hanya tamatan SMA/SMK/MA.

Tidak sedikit para pejabat memiliki gelar akademik yang meyakinkan, ditambah dengan wawasan luas tentang perkembangan dunia. Tapi semua itu tak berarti kalau pada akhirnya masih tergoda dengan gratifikasi, sogokan proyek dan atau hambur-hambur anggaran untuk pencitraan.

Belum lagi dengan kasus plagiarisme karya tulis di berbagai perguruan tinggi kita yang notabene pelakunya adalah mereka yang katanya “kaum terdidik”. Bahkan yang paling mengerikan adalah sampai melakukan praktek kampus abal abal dan ijazah palsu.

Lantas apa itu hakikat pendidikan yang sebenarnya?

Menurut KBBI, pendidikan adalah proses mengubah sikap atau tata laku untuk mendewasakan manusia melaui pengajaran atau pelatihan. Berdasarkan definisi tersebut kita bisa lebih yakin bahwa pendidikan bukan sekedar gelar tapi bagaimana perilaku yang ditampilkannya.

Baca Juga:  18 Mahasiswa UNM Bakal PPL di Sekolah Islam Athirah

Apalah arti gelar sarjana kalau khianat dan korup. Untuk apa gelar profesor jika penilaiannya bisa dibeli dengan kepentingan kelompok tertentu. Lebih miris lagi jika gelar akademiknya dipatenkan dengan materil tanpa proses belajar sedikitpun.

Maka berhentilah membusungkan dada hanya karena gelar akademik di belakang nama tapi perilakunya masih jauh dari standar kompetensi lulusan SD. Bukankah padi yang semakin berisi akan semakin menunduk dan mendekati tanah, bukan karena rendah tapi karena padi itu sudah semakin berisi.

Menurut Dr. Fadli, bahwasanya perubahan paradigma pemikiran masyarakat, bahwasanya pedidikan itu tidak penting, yang jelas bisa bekerja atau menjadi PNS/ASN itu tolak ukur kesuskesan seseorang dalam kehidupannya, padahal itu pemikiran subjektif, yang jelas benarlah kata nabi saw, “tuntutlah ilmu mulai dari ayunan hingga liang lahat”. Sejatinya orang berilmu itu adalah agen perubahan zaman yang kelak akan menggantikan posisi kaum tua, oleh sebab itu, dipundak merekalah (orang-orang berilmu) itu sangat diharapkan pembaharuannya.

Tim Redaksi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed