oleh

Perda KTR Bukan Melarang Tapi Bersifat Mengatur

-Berita-33 views
Media Sosial

MAKASSAR–Kalau dilakukan sosialisasi seperti ini, sering ada yang bertanya, jadi kami dilarang merokok, bu? Saya jelaskan, Perda ini bukan melarang tapi mengatur agar para perokok tidak mengepulkan asap rokoknya di sembarang tempat,” begitu penjelasan anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Hj. Sri Rahmi, S.A.P., M.Adm. K.P di hadapan warga Kelurahan Rappocini, Makassar, Jumat, 26 Juli 2020.

Perda yang dimaksud Ketua Fraksi PKS, DPRD Provinsi Sulsel itu adalah Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 1 Tahun 2015 tentang Kawasan Tanpa Rokok atau biasa disingkat Perda KTR. Sri Rahmi menambahkan, ada sejumlah tempat atau area yang terlarang untuk merokok. Yakni, di area fasilitas pelayanan kesehatan, tempat belajar-mengajar, tempat bermain anak, rumah-rumah ibadah, fasilitas olah raga yang tertutup, angkutan umum, tempat kerja, serta tempat umum tertentu, seperti bandara dan lain-lain.

Menurutnya, sosialisasi Perda KTR ini penting karena dampak merokok bukan saja terhadap perokok itu sendiri tapi berakibat pada orang-orang sekitarnya, yang disebut perokok pasif. Karena itu, ia mendorong untuk diambil langkah tegas agar Perda ini efektif diberlakukan. Apalagi di Makassar juga punya payung hukum sejenis, yakni Perda No. 4 Tahun 2013.

Kegiatan sosialisasi yang dilakukan di tengah suasana pandemi Covid-19 ini tampak berbeda dari biasanya. Peserta sebanyak 170 orang dibagi atas empat sesi, di mana mereka masuk secara bergantian. Mereka juga duduk dengan mengatur jarak sesuai pedoman darurat kesehatan Covid-19 yang aman dan produktif. Selama kegiatan, baik pembicara maupun peserta menggunakan masker. Sehingga, Sri Rahmi sempat melontarkan guyonan.

“Yang didepan ta’ ini Bunda ji’, bukan kw-nya. Jangan sampai kita kira orang lain. Saya pakai masker agar sesuai protokol kesehatan,” seloroh wanita yang akrab disapa Bunda itu dalam logat Makassar.

Baca Juga:  Kapolres Barru Silaturahmi dengan Masyarakat Desa Palakka

Lurah Rappocini, Andi Unru, S.STP, mengatakan bahwa di kelurahannya sudah ada pojok khusus yang disediakan untuk para perokok, sesuai indikator Lorong Sehat (Longset). Harapannya, mereka yang merokok tidak merokok di depan anak dan istri, yang akan berakibat buruk bagi kesehatan orang-orang yang disayangi dan mestinya dilindungi.

Susi Smita, narasumber yang diundang memberikan materi tentang peran keluarga, mengakui orang tua punya peran penting untuk memutus mata rantai merokok dengan tidak merokok di depan anak-anaknya.

Hadir dalam kegiatan ini Ketua DPD PKS Kota Makassar sekaligus Anggota DPRD Kota Makassar, Anwar Faruq, S.Kom, Ketua LPM Rappocini, Sultan Dg. Liwang, sejumlah Ketua RW dan RT serta tokoh masyarakat.

Ada juga tenaga kesehatan dari Puskesmas Ballaparang, Nuraeni, yang mengingatkan warga untuk menaati protokol kesehatan demi menghindarkan diri dari kemungkinan terpapar virus Corona. Warga diingatkan agar menjaga kesehatan dengan tidak merokok, rajin berolah raga dan mengkonsumsi makanan bergizi.

Sementara Rusdin Tompo, aktivis perlindungan anak yang juga dikenal sebagai penulis buku, menawarkan new normal dalam mewujudkan KTR. Rusdin menyarankan agar dimulai dari rumah, yakni setiap rumah tak lagi menyediakan asbak rokok, tidak merokok di depan orang yang tidak merokok, terutama anak dan istri, tidak memasang iklan dan promosi rokok di warung, kios, gadde’-gadde’, serta tidak merokok di kawasan yang memang ditetapkan sebagai KTR, misalnya di sekolah.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed