oleh

Risalah Warisan Peletak Dasar Kebangkitan Islam

-opini-88 views
Media Sosial

Barrupos.com, Sejarah mencatat dalam tinta emas, kaum Muslimin pernah dominan di sepenggal sejarah masa lalu, itulah saat peradaban manusia berkembang pesat, kedamaian merebak luas, keadilan menjadi panglima dan kebajikan mendunia. Kala itu, ummat Islam membawa obor penerang di tengah-tengah buramnya sebuah peradaban saat itu. Semua hal indah itu kini tinggal sebuah kenangan, lihatlah bagaimana nasib umat Islam sekarang, betapa tertinggalnya dari umat lain, alangkah terpuruknya nasibnya jika dibandingkan dengan kemajuan bangsa Eropa, umat Islam tidak kunjung bergerak meraih kemajuan positif yang dicita-citakan oleh para peletak pondasi dasar para penegak Islam masa lalu. Menurut Dr. Muhammad Fadli dalam goresan tulisannya ini, beliau memberi kata kunci, yaitu ada 2 hal subtansial yang waktunya tak akan pernah kita tau waktunya, yaitu sampai kapan tidurnya seseorang dan sampai kapan terpuruknya dan tertindasnya sebuah bangsa dan umat.

Jika kita mencermati kembali sisi sejarah keterpurukan umat Islam masa kini, pastilah kita mendapati bahwa faktor penyebab kemajuan masa lalu kini tinggal sebuah ukiran sejarah belaka, dan kita generasi Islam milenial hanya bisa bangga dengan kejayaan leluhur kita saat berjuang dan berjihad demi tegaknya dinul Islam.

Q.S Al Mu’min ayat 8, yang artinya (Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, rasulnya dan orang-orang Mu’min), lalu pertanyaannya sekarang dimana letak integritas orang-orang Mu’min setelah menghayati ayat ini sebagai landasan berpijaknya umat. Sementara dalam surah Ar Rum ayat 7, yang artinya (Dan merupakan hak kami untuk menolong orang-orang yang beriman), ayat ini memberi pemahaman kepada kita bahwasanya Allah swt menolong orang-orang beriman selama kaum Mu’minin itu mau merubah nasibnya dengan cara berikhtiar dan penuh rasa keikhlasan.

Baca Juga:  Melihat Suara Stake Holder Golkar Jelang Munas Partai Golkar

Kini umat Islam telah kehilangan semangat yang pernah dimiliki para pendahulunya, sebut saja, Umar Bin Khattab, Ali Bin Abi Thalib, Salahuddin Al Ayyubi, Khalid Bin Walid, Hamzah, Sultan Muhammad Al Fatih, Ibn Sina, Ibn Rusyd, Al Farabi, Al Kindi, Al Khawarizmi dan sebagainya, justru semangat itu dimiliki oleh musuh-musuh Islam saat ini, saat ini umat Islam dibantai begitu saja tanpa ada belas kasihan terhadap kaum zionis yang ingin menyaksikan kehancuran umat Islam, maka wajarlah jika ada yang berkata, “Memangnya ada umat Islam yang mau mempersembahkan jiwa raganya demi tegaknya dinul Islam secara “kaffah”. Sayangnya umat Islam ingin melindungi kemerdekaannya tanpa berkorban apa-apa, tanpa bertaruh nyawa, tanpa berlomba-lomba untuk gugur sebagai syahid dan tanpa susah payah mengeluarkan harta benda, mereka hanya bisa menjadi penonton atas terbantainya umat Islam masa kini. Andai hanya cukup berdoa saja tanpa adanya jihad tentulah Nabi saw dan para sahabatnya hanya berdoa saja tanpa ada peperangan, sebab doa mereka lebih banyak didengar dan dikabulkan Allah swt, lagipula seandainya cita-cita hanya bisa diraih dengan doa dan dzikir saja tanpa pergerakan, perbuatan dan perjuangan jihad, pastilah Nabi saw dan para sahabatnya melakukan hal itu, tetapi ternyata Nabi saw dan para sahabatnya memberikan contoh kepada kita generasi Islam, bahwa tanpa perjuangan dan kasih sayang antar sesama umat Islam, maka Agama Islam akan secara terus menerus mengalami sebuah keterpurukan dan kemunduran di berbagai sektoral.

Potret rusaknya moral umat Islam saat ini, saking rusaknya, sampai-sampai musuh terbesar umat Islam adalah kaum Muslimin itu sendiri, Bagaimana tidak! manakala seorang Muslim hendak mengabdi pada Agamanya, ia dicekal dan dikecam bertubi-tubi, potret diskriminasi terhadap sesama umat beragama Islam, hak-hak saudara seaqidah digadaikan demi sebuah kepentingan dirinya sendiri dan keluarganya, jika sudah demikian, maka pupuslah harapan tegaknya cita-cita para pendahulu kita, untuk menegakkan dinul Islam secara Kaffah.

Baca Juga:  Alokasi Dana Desa Diduga Ditilap

Salahsatu faktor penyebab ketertinggalan umat Islam saat ini adalah kebodohan (tanpa didasari ilmu dan keyakinan), lalu penyebab lainnya adalah kerusakan akhlak (budi pekerti), hal ini ditandai dengan hilangnya nilai-nilai yang digalakkan Al Qur’an dan lenyapnya tekad membara untuk berjihad. Padahal dalam membangun setiap peradaban bangsa akhlak lebih besar daripada intlektual, sehingga sangat indah kata-kata seorang Ulama besar yang bernama Ahmad Syauqi;
“Setiap bangsa hanya tetap ada selama masih berbudi pekerti, dan apabila budi pekerti bangsa itu sudah lenyap, maka selamanya akan pergi”

Peranan ulama sebagai waratstul anbiya’i (pewaris para nabi) sudah kehilangan wibawanya dihadapan umat Islam, semisal ada ulama yang kerjanya hanya menjilat terhadap elit dan penguasa, kemudian menegeluarkan fatwa yang menurut selera kaum elitis dan kolomerat, sayangnya generasi ulama seolah menjadikan ilmu sebagai ladang penghidupan, mereka menjadikan agama sebagai alat pancingan dunia modern, mereka seolah memeperbolehkan penguasa melanggar aturan batasan agama. Asumsi inilah kemudian memperparah kerusakan peradaban, akibatnya lenyaplah kemasalahatan umat, Islam pun terpuruk, sementara musuh-musuh merjalela, semua itu adalah konsekwensi oleh ulama-ulama dunia yang hanya mempunyai sebuah kepentingan.

Yang terakhir, penyebab utama juga adanya kemunduran umat Islam adalah penakut, padahal sebelumnya umat Islam terkenal paling berani dan tidak takut mati demi tegaknya dinul Islam, sekarang mereka sudah penakut, kecuali hanya segelintir oknum-oknum yang berani menyuarakan kebenaran semisalnya (Muhammad Rizieq Sihab) yang lebih dikenal dengan sebutana nama Habib Rizieq Sihab (HRS). Sifat pengecut dan penakut yang menjangkiti umat Islam itu diperparah rasa putus asa terhadap rahmat Allah swt beberapa kalangan umat Islam beranggapan bahwa bangsa Barat paling tinggi dalam segala hal, bahkan mereka beranggapan, bahwa tidak ada satupun cara untuk mengalahkan mereka, semua perlawanan hanya sia-sia saja, perasaan seperti itulah semakin menjadi-jadi dan mendarah daging dalam jiwanya setiap kali berhadapan dengan bangsa Barat. Eropa sangat diuntungkan oleh rasa takut tersebut, jadi sebagian kecil orang Eropa dapat menguasai sebagian besar umat Islam.

Baca Juga:  PNS Bicara Politik

Penulis : Dr. Muhammad Fadli

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed