oleh

SEJARAH: Tugu Pahlawan 1945 Barantang Desa Manuba

-Berita-586 views
Media Sosial

BARRU POS–Desa Manuba, Dusun Barantang adalah Suatu Wilayah teritorial yang ada di Kecamatan Mallusetasi kabupaten Barru, yang memiliki luas wilayah 36.883.688 Ha/ 36 KM2 , berbatasan dengan beberapa wilayah teritorial, diantaranya, sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Sidrap, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Ajjakkang Soppeng Riaja, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Soppeng., sebelah barat berbatasan dengan selat Makassar, adapun objek destinasi wisata yang dimiliki desa tersebut adalah objek wisata (Bujung Makkatoange) di Dusun Alakkange, Wae’ Mamabuange (Dusun Manuba), dan terdapat juga TUGU PAHLAWAN 1945 di (Dusun Barantang) sebagai bukti outentik dalam memahami sebuah aspek kesejarahan.

Penulis (Muhammad Fadli Alimuddin) Seorang Mahasiswa Doktor Pendidikan Islam UMPAR asal Kampung Baru Kel. Palanro, putra ke dua dari bapak Alimuddin, S. Pd (Guru SDI Barantang) dan Hj. Rusmiati, S. Pd (Guru SDI Kampung Baru), ingin berbagi cerita tentang sisi nilai kepahlawanan di masa silam dalam rentang waktu 1945 sebagai sejarah yang mulai tergerus oleh zaman yang ada sebagai bentuk rasa empati dan kepeduliannya tentang tanah kelahirannya (Mallusetasi) yang di mana ada banyak hal terkait sejarah perjuangan nenek moyangnya yang gigih berani melawan penjajah Belanda. Penulis, sengaja melakukan penelusuran sejarah dengan melakukan interview (wawancara langsung) terhadap bebrapa tokoh Masyarakat, sumber data, dan saksi sejarah langsung.

Fadli (Penulis), menemui seorang tokoh masyarakat bernama Puang Tajuddin (Kepala Dusun Barantang) untuk mendapatkan sumber informasi valid, dan ditambahkan oleh H. Puang Sykurdin (Saksi sejarah) saat ini tinggal di kampung baru kel. Palanro, yang usianya sudah beranjak 87 tahun, dan ayahnya juga termasuk korban kebiadaban penjajah belanda.

Kronologis keberandaan TUGU PAHLAWAN di Dusun Brantang, karena di tahun 1945 di lokasi tersebut tepatnya di dusun Barantang desa Manuba Kec. Mallusetasi, seorang pejuang yang bernama A. SYAMSUL ALAM (Petta Bau) komandan pejuang Mallusetasi (KOMANDAN VETERAN) tinggal di Barantang saat itu, di tahun 1945 (tidak diketahui tanggal , bulan dan harinya), A. SYAMSUL ALAM bersama P. jalali gencar-gencarnya melakukan pergerakan melawan penjajah Belanda hingga akhirnya BELANDA geram dan marah ketika sosok pemberani (Petta Bau) dan P. Jalali dkk, menghabisi beberapa kompeni Belanda (Penjajah), walau sebelumnya (Petta Bau) dan P. Jalali dkk, selalu diajak oleh Belanda untuk bersekutu (berserikat) dengan iming-iming yang menggiurkan, agar supaya tidak melawan Belanda, namun mereka tidak mau menerima ajakan Belanda, karena di hati kecil (Petta Bau) dkk, mengatakan bahwa negeriku (Barantang/Mallusetasi) telah di jajah oleh manusia yang tidak berprikemanusiaan (Kerja paksa tanpa upah, membunuh, menyiksa warga, menjadikan wagra sebagai budak-budak Belanda, bahkan harta milik rakyat dirampas paksa, dll), sehingga Petta Bau dkk, mengatakan “Narekko teyani temmakua, polo pang polo panni, wappemaliang wijakku soro calabai narekko akko mui tongenge monro tettong batang makkiwali tessanre ri acekongenge” yang artinya Jika tidak biasa lagi menemukan jalan/ solusi yang disepakati, maka saya melarang keturunanku untuk mundur dan menyerahkan diri dan harus melawan demi tegaknya kebenaran dan tidak bersekutu pada kecurangan.

Baca Juga:  Proyek Desa, Sebesar 389 Juta, Dilidik Kejaksaan Negeri Barru

Saat itulah Petta Bau (Andi Syamsul Alam) melawan penjajah Belanda karena negerinya telah tertindas dan terjajah oleh Belanda. Ada yang menarik, ketika kami mewawancarai H.P. Syukurdin (Tokoh Mayarakat), anak dari salah seorang pejuang yang ditembak mati oleh Belanda ayahnya bernama (LA WADJE) beliau saat itu menjabat sebagai kepala Dusun/kepala Kampong, sepupu satu kalinya ditangkap oleh Belanda saat itu, LA WADJIE berinisiatif untuk melepaskan sepupunya dari Belanda, yang dimana semua tawanan Belanda dibawa di SALASSAE’ (saat ini ditempati gedung SMP Neg. 1 Palanro), ternyata LA WADJIE pun juga akhirnya tertangkap oleh Belanda, dan semua tawanan (Pallae, Alakkang, Lanrae, Nepo) di bawa ke Barantang, untuk dikumpulkan dan ditempat itulah semua tawanan tertembak oleh Belanda, termasuk LA WADJIE (kepala kampong Barantang 1945) ayah dari H.P.Syukurdin, Belanda mencari Petta Baud an P. Jalali, lalu warga pun tidak mengetahui keberadaan mereka, lalu ditembaklah semua warga yang tidak memberi keterangan/informasi jawaban tentang keberadaan para penentang penjajah Belanda, sehingga latar belakang berdirinya TUGU PAHLAWAN di BARANTANG karena tempat itulah SEBAGAI SAKSI SEJARAH MASA LAMPAU, terdapat ratusan warga dan pejuang Barantang ditembak mati oleh penjajah Belanda, (Sumber; H. P. Syukurdin).

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945 tentunya memiliki arti yang begitu penting untuk Bangsa Indonesia sendiri. Secara garis besar mengenai arti ataupun makna pentingnya tanggal 17 Agustus 1945, bagi bangsa Indonesia adalah momentum sejaraha proklamasi kemerdekaan RI sebagai puncak para perjuangan bangsa Indonesia ketika itu. Kemudian makna sejarahanya adalah, bahwa Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 merupakan sumber hukum bagi pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang terbentang luas mulai dari sabang sampai dengan merauke. Bukan itu saja, makna lain dari Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 adalah, bahwa ini merupakan titik tolak dari pelaksanaan amanat penderitaan rakyat Indonesia ketika itu bahwa Proklamasi Kemerdekaan RI sebagai titik tolak perubahan dari tata hukum kolonial yang berubah menjadi tata hukum nasional.

Baca Juga:  Cepat Rusak, LSM Kompak Pertanyakan Kualitas Jembatan

Setiap hal besar yang bersejarah di Indonesia tentunya memiliki makna tersendiri soal kelangsungan pelaksanaan atau dari berbagai persoalan. Termasuk peristiwa yang begitu bersejarah, Proklamasi Kemerdekaan RI pastinya akan memiliki makna yang cukup besar, karena dengan menyatakan Indonesia merdeka adalah sebuah keberanian dengan tekad yang kokoh. Indonesia lahir bukan melalui sejarah yang pendek, instan dan biasa saja, akan tetapi Republik Indonesia lahir karena buah kesabaran dan kokohnya perjuangan para pendahulu. Kemerdekaan bukan merupakan hasil akhir dari perjuangan bangsa Indonesia, Indonesia pun menginginkan orang-orang di dalamnya merupakan orang-orang yang memiliki jiwa juang, patriot, rela berkorban, dan Jiwa juang dalam hal menuntut ilmu, memahami akan sejarah Indonesia, dan lain sebagainya.

Penulis : Muhammad Fadli Alimuddin
Reporter : Mudaksir Anci

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed