oleh

Taman Makam Pahlawan Lakalitta, Bukti Perjuangan Rakyat Mallusetasi

-opini-107 views
Media Sosial

Barrupos.com, Lakalitta adalah sebuah nama wilayah kecil yang berada di Dusun Ujung Desa Cilellang Kecamatan Mallusetasi Kabupaten Barru, dimana tempat ini sangat bersejarah sebab dijadikan sebagai tempat dimakamkannya para pejuang 45 Mallusetasi melawan penjajah Belanda pada masa lampau, tempat ini juga dalam catatan sejarah, yaitu lokasi pembataian beberapa warga Mallusetasi oleh kelompok geriliyawan DI-TI, mulai dari tindak kekerasan, pembantaian, pembunuhan dan penganiyaan, sehingga stigma sebagian masyarakat mengannggapnya wilayah tersebut keramat, sebagian masyarakat dulunya sering mengalami beberapa kejadian-kejadian aneh diluar dari nalar logikanya, sesuatu yang mistik dan misterius, tetapi saat ini tempat tersebut sudah aman bahkan sudah berdiri beberap pemukiman masyarakat dan sekolah yaitu MAN 2 Barru.

Terlait dari Taman makam pahlawan tersebut, penulis tidak terlalu mengetahui secara pasti, siapa-siapa pejuang 45 Mallusetasi yang dikuburkan ditempat tersebut, yang pastinya penulis memahami bahwasanya tempat tersebut salahsatu tempat bersejarah, karena disitulah gencatan senjata antara pejuang dan penjajah Belanda.

Ada beberapa Tokoh pejuang yang Mallusetasi (Palanro) yang diabadikan namanya sebagai pejuang 45 yang dengan keberaniannya dan ketannguhannya melawan penjajah Belanda, sehingga namanya sangat Harum, bahkan ada diantara mereka masuk dalam daftar Veteran 45 sehingga mendapat penghargaan dari pemerintah disebabkan dari pengorbanannya dalam melawan penjajah Belanda.

Adapun daftar nama-nama pejuang 45 yang sempat terekah dalam sejarah dan setelah ditelusuri rekam jejaknya sehingga kami ini sebagai generasi muda harus mengetahui secara pasti literatur-literatur sejarah, termasuk literatur masalah ketokohan pejuang 45 asal Mallusetasi (Palanro), diantaranya adalah;

  1. La Tanring
  2. I Balobo
  3. I umpangnge
  4. La Marakka’
  5. La Baco Enni
  6. La Bennu
  7. Andi Condang
  8. Andi Ukru’
  9. Andi Maramat
  10. Andi Abdul Jalil (Puang Jalali)
  11. Hasan Bin Tahir
  12. La Mambe’
  13. La Solong
  14. Andi Syamsul Alam (Petta Bau)
Baca Juga:  Reformasi Kebijakan Publik (Perspektif Makro dan Mikro

inilah mereka-mereka yang pernah mewarnai perlawanan terhadap penjajahan Belanda dimasa lampau, sehingga mereka dikenal sebagai pejuang 45.

Sebagai Warga Palanro Mallusetasi, putra asli daerah tersebut pasti sangat bangga apabila mengenang perjuangan para pahlawan. Para pahlawan rela berkorban demi memberikan yang terbaik untuk Indonesia tercinta. Bagaimana dengan generasi muda sekarang? Apa yang sudah kita berikan tuk negeri tercinta ini?Jawabannya simpel, mari introspeksi diri masing-masing.

Berbicara mengenai pahlawan tidak lantas membuat kita berpikir sempit kalau sosok tersebut hanya ada dimasa lalu yang rela mati demi negara. Pahlawan di masa kini tentunya tidak harus bersenjata perang dan tidak harus bercucuran darah juga kan? Sepakat ! Pahlawan-pahlawan tersebut dapat ditemukan disekitar kita, tentunya dalam masa yang berbeda dan dengan perjuangan yang berbeda pula. Ada “Guru atau Dosen” sebagai Pahlawan Pendidikan bertugas mendidik rakyat Indonesia, saat sakit ada “Dokter” sebagai Pahlawan Kesehatan yang membantu kesembuhan kita, dan masih banyak pahlawan-pahlawan di bidang lainnya.

Eits, yang disebut pahlawan bukan hanya yang memiliki jabatan seperti contoh di atas saja. Tukang becak pun layak menyandang gelar pahlawan bagi keluarganya, anak-anaknya atas perjuangannya dalam mencari nafkah. Orangtua juga disebut sebagai pahlawan karena rela berkorban serta berani memperjuangkan kebahagiaan bagi sang buah hati. Well, siapapun dapat disebut pahlawan jika Ia merupakan sosok pemberani yang rela mengorbankan sesuatu bukan sekedar tuk diri sendiri, tetapi keluarga, masyarakat atau negeri tercintanya.

Dewasa ini sebagian besar kalangan muda hanya mengenang jasa-jasa para pahlawan. Alangkah bijaknya jika generasi penerus ini mau belajar banyak dari pahlawan, karena dengan begitu kita menjadi generasi yang menghargai waktu, memiliki semangat nasionalisme dan memiliki solidaritas yang kuat. Belajar dari pahlawan dapat dimulai dengan cara kita memaknai hari pahlawan. Setelah itu secara bertahap mampu menumbuhkan semangat guna memiliki sikap cinta akan perjuangan pahlawan, cinta negeri, serta selalu gigih dan giat untuk mempelajari perjuangan para pahlawan. Hari pahlawan memang sudah terlewati namun tiada kata terlambat untuk terus belajar !!

Baca Juga:  Penguatan Nasionalisme dan Islam Nusantara

Penulis : Muhammad Fadli

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed