oleh

Urgensi Pendidikan Islam di Era Global

-opini-115 views
Media Sosial

Barrupos.com, Abad ke-21 atau era milenial ini disebut era global digitalisasi, telah menjadi konsep yang sering digunakan untuk menggambarkan fenomena dunia yang serba kompleks. Menurut pemikiran Dr. Muhammad Fadli sosok penggiat Pendidikan di Kabupaten Barru menyatakan bahwa ciri era ini ditandai dengan munculnya saling ketergantungan (interdepedensi) hampir seluruh dimensi kehidupan.

Era global digitalisasi adalah zaman modern yang ditandai dengan sebuah ketergantungan antar satu dengan yang lainnya, yakni dunia saat ini saling mempengaruhi. Adapun pengaruh terpenting atas dunia masa kini dengan dunia lainnya adalah dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi, keadaan yang demikian menyebabkan timbulnya berbagai kemudahan dan peluang untuk saling mengakses berbagai hal yang ada diantara negara-negara di dunia, akibatnya kehidupan ini ditandai oleh adanya persaingan yang sangat tajam dan riskan, tentu dalam persaingan tersebut seseorang dapat tampil sebagai pemenang, maka selain itu ia harus memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang cukup dan bermutu, maka dia juga harus memiliki nilai kreatifitas, inovasi, dinamisasi, progresifitas dan tentu tanpa harus meninggalkan nilai ajaran agamanya yakni ajaran Islam. Ternyata dalam persaingan skala global internasional, maka bangsa baratlah pemenangnya, tentu pengaruhnya terhadap dunia lain cukup signifikan dan menyebar luas, termasuk imbasnya di bumi Nusantara (Indonesia), sehingga negara kita saat ini, mengalami sebuah kemunduran kompetisi skala global (internasional), seperti pada aspek pendidikan, ekonomi, politik, hukum, sosial, kebudayaan, pertahanan dan sebagainya.

Krisis dalam bidang ekonomi ditandai dengan adanya praktik monopoli penguasaan aset kekayaan negara oleh segelintir oknum elit di bangsa ini, sehingga terjadi persaingan tidak sehat, saling menipu, korupsi, dan sebagainya. Krisis dalam bidang politik ditandai dengan adanya konsentrasi kekuasaan pada segelintir orang di negeri ini yang tampak otoriter dan kurang berkembangnya semangat musyawarah sebagai konsep Islam. Krisis dalam bidang sosial ditandai dengan adanya kesenjangan sosial, kurang harmonisnya hubungan antara sesama bangsa dan dis-integrasi nasionalisme, ada sekat antara si kaya dan si miskin. Krisis dalam bidang hukum ditandai dengan adanya diskriminasi penegak hukum dalam memperlakukan masyarakat yang memerlukan bantuan hukum, cenderung berpihak kepada yang lebih kuat, kurang menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Krisis dalam bidang pertahanan ditandai dengan adanya semakin lemahnya wibawa aparat keamanan dan semakin terjadinya tindakan kriminalitas dan keberutalan generasi yang putus sekolah yang kelak menjadi bibit-bibit preman di Bangsa ini. Krisis dalam bidang kebudayaan yang ditandai dengan adanya hidup hura-hura dan hedonistik, dan pemuasan terhadap hawa nafsu bejat dan bebas nilai, saat ini banyak dikalangan ummat Islam mengadopsi budaya barat tanpa melihat nilai-nilai negatifnya.

Baca Juga:  PNS Bicara Politik

Saat ini bangsa eropa (barat) telah menguasai hampir semua lini dan sendi kehidupan, oleh karena itu, seorang guru besar yang sudah wafat, bapak Prof. Dr. H. Abd. Halim, M.A (Pakar Pendidikan Islam) menyatakan bahwasanya pemerintah Islam dan ummat Islam pada umumnya menyadari akan keterbatasan yang dimilikinya sehingga mempertimbangkan untuk mengadopsi sistem pendidikan ala barat. Sebagai konsekwensinya adalah peradaban Islam telah kehilangan model dan hampir tidak mempunyai alternatif kecuali mengadopsi sistem dan lembaga pendidikan dari peradaban barat. Oleh karena itu, secara diam-diam ummat Islam zaman ini telah mengikuti peradaban barat yang merumuskan pandangannya mengenai kebenaran dan realitas tanpa mengacu pada agama dan pengatahuan yang tidak diwahyukan tetapi atas dasar tradisi kebudayaan yang secara seksama diperkuat oleh premis-premis spekulasi, terurama berkenaan dengan ide-ide sekuler. Premis-premis tersebut tidak menghasilkan kepastian dalam arti kepastian agamais yang berdasarkan pengetahuan wahyu seperti yang dipahami dalam ajaran agam Islam.

Menurut Dr. Muhammad Fadli dalam pemikirannya saat ini, untuk mewujudkan manusia yang sanggup menghadapi tantangan global, pendidikan Islam yang berorientasi pada nilai-nilai akhlakul karimah dalam persepektif “TASAWUF PENDIDIKAN ISLAM TRANSPORMATIF” sangat urgen dan signifikan. Hal ini sangat mudah dimengerti karena Pendidikan Islam sebagaimana yang berkali-kali disebutkan, adalah pendidikan yang mengarah pada pembentukan insan kamil dalam arti yang luas, baik insan kamil dalam persepektif pendidikan Islam maupun dalam persepektif tasawuf transpormatif, menurut Dr. Muhammad Fadli bahwasanya Pendidikan Tasawuf Transformatif adalah seseorang yang diajarkan sebuah ilmu pengetahuan agama secara utuh (kaffah) sehingga dalam hidupnya dapat menampakkan sifat-sifat ketuhanan dalam perilakunya dan betul-betul menghayati identitasnya sebagai seorang hamba dan mahluk mulia dihadapan Allah swt.

Baca Juga:  “Penguatan Nasionalisme Dan Islam Nusantara”

Dengan demikian, sikap berpegang teguh kepada nilai-nilai spritual sebagaimana yang diajarkan pendidikan Islam berorientasi kepada tasawuf transpormatif akan semakin urgen di era global saat ini, kesadaran akan pentingnya pendidikan Islam dalam memecahkan dan merespon berbagai krisis terutama krisis spiritual di era global digitaisasi, hal demikian karena mengingat apabila dunia pendidikan Islam gagal dalam meretas krisis spiritual, praktis bahwa misi Islam sebagai agama RAHMATAN LIL ALAMIN tidak memiliki arti penting di era global digitalisasi saat ini.

Menelusuri fenomena saat ini yang dihadapi oleh ummat Islam, maka tentu disinilah tepat sekali menerapkan urgensi nilai-nilai pendidikan tasawuf transpormatif di era global, sering terjadinya tawuran dikalangan pelajar, perbuatan asusila oleh kaum terpelajar bahkan orang yang elit berpendidikan tinggi kerap kali melakukan hal senonoh terutama perilaku menyimpang ditengah masyarakat, itu pada gilirannya meningkatkan penilaian kurang etis terhadap pendidikan Islam, fenomena demikian kelihatannya tidak terlepas dari krisis multi dimensional yang tengah dihadapi oleh ummat Islam saat ini.

Penulis: Dr. Muhammad Fadli, M.Pd.I
(Akademisi dan Penyuluh Agama Kab. Barru)

Tim Redaksi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed