Barrupos.com-Menghadapi disrupsi moral dan krisis keteladanan di era modern, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Gazali Barru menggelar Seminar Internasional dan Kuliah Umum di Aula Kampus STAI Al Gazali Barru, Selasa (29/9/2026). Kegiatan ini disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube dan aplikasi Zoom.
Mengangkat tema “Warisan Intelektual Imam Al-Ghazali: Politik Beretika, Hukum Berkeadilan, dan Pendidikan Berkeadaban”, forum akademik ini membedah cetak biru (blueprint) tatanan masyarakat ideal yang dirumuskan oleh Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali. Gagasan klasik tersebut diuji relevansinya sebagai solusi atas tantangan tata negara, hukum, dan moralitas kontemporer.
Ketua Panitia, Irwan, S.Pd.I., M.A., menggarisbawahi urgensi pembacaan ulang pemikiran Al-Ghazali di tengah dinamika sosial saat ini.
“Pemikiran Sang Hujjatul Islam bukan sekadar romantisasi sejarah, melainkan solusi aplikatif untuk mengatasi krisis multidimensi yang sedang dihadapi masyarakat modern saat ini. Al-Ghazali membuktikan bahwa politik, hukum, dan pendidikan tidak boleh dipisahkan dari spiritualitas dan akhlak. Tanpa etika, politik menjadi destruktif; tanpa keadilan, hukum menjadi alat penindas; dan tanpa adab, pendidikan hanya mencetak orang pintar yang amoral,” tegas Irwan dalam laporannya.
Sesi pemaparan materi diawali oleh Ketua STAI Al Gazali Barru, Dr. Muhaemin, S.Sy., M.Sy., yang menyoroti konsep etika kekuasaan dan tanggung jawab kewarganegaraan.
“Penting bagi kita untuk membangun ulang hubungan yang harmonis antara pemimpin dan rakyat. Perspektif Al-Ghazali memberikan panduan agar kekuasaan dijalankan atas dasar tanggung jawab moral, bukan semata-mata penumpukan kekuasaan,” ungkap Dr. Muhaemin.
Perspektif internasional dihadirkan oleh Guru Besar Kulliyah al-Ulum al-Islamiyyah li Tullabil-Wafidin Al-Azhar University Cairo, Prof. Dr. Syekh Saleh Ahmad Abd Wahhab Abd Qawwiy, M.A. Dalam pemaparannya mengenai politik beretika, ia menekankan pentingnya integrasi nilai keagamaan dalam tata kelola negara.
“Suatu negeri jika ingin maju harus berpegang teguh pada praktik politik yang beretika. Kemaslahatan rakyat sangat bergantung pada pemimpinnya, begitu pula sebaliknya. Nilai-nilai politik beretika yang dibahas Imam Al-Ghazali akan senantiasa sinkron dengan perkembangan zaman. Hal ini krusial untuk mengembalikan serta memperkuat fondasi moral dan agama agar suatu negara terhindar dari kehancuran moral,” paparnya.
Sementara itu, Narasumber ketiga sekaligus penerjemah, Prof. (HC). Dr. H. Muhammad Aydi Syam, M.H.I. (Muhadir Pendidikan Tinggi Kader Ulama/Ma’had Aly DDI Mangkoso), menguliti dimensi peradaban dalam pendidikan Al-Ghazali yang berfokus pada pembentukan akhlak mulia dan pendekatan diri kepada Allah SWT.
“Kita harus mengikis dikotomi pemikiran sebagian umat Islam yang memisahkan antara ilmu agama, sains, dan politik. Umat Islam tidak boleh buta politik. Dalam dunia pendidikan pun demikian, seorang guru tidak boleh lagi mengajar dengan pola lama persis seperti saat ia dulu menjadi murid,” jelas Prof. Aydi Syam.
Diskusi interaktif yang dipandu moderator berlangsung dinamis hingga akhir sesi. Melalui kacamata pemikiran Al-Ghazali, seminar ini menyimpulkan satu pesan kunci: peradaban Islam tidak akan tegak tanpa pemerintahan yang stabil. Stabilitas tersebut hanya tercapai jika masyarakat sejahtera dan mendapatkan keadilan, di mana setiap kebijakan penguasa (tasharruf) ditujukan secara mutlak untuk kemaslahatan umum (maslahatil ummah), baik dimensi material di dunia maupun spiritual untuk akhirat.
Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pejabat struktural, dosen, staf, mahasiswa, dan alumni STAI Al Gazali Barru. Turut hadir tamu undangan dari civitas akademika ITBA Al Gazali Barru, pendidik dari berbagai sekolah dan madrasah, serta perwakilan organisasi kepemudaan (OKP) seperti PMII, HMI, dan IMM.





